Bappenas Siapkan Peta Jalan Bioekonomi hingga Akhir 2026

Mutiara Nabila
Mutiara Nabila Kamis, 29 Oktober 2026 09:27 WIB
Bappenas Siapkan Peta Jalan Bioekonomi hingga Akhir 2026

Foto ilustrasi biodiesel dibuat dengan artificial intelligence.

Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah menyiapkan pemanfaatan sumber daya hayati melalui biosolusi dan bioekonomi sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Pendekatan ini diarahkan untuk meningkatkan daya saing industri sekaligus membangun ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A. A. Teguh Sambodo, mengatakan pengembangan bioekonomi telah menjadi bagian dari arah pembangunan jangka panjang Indonesia. Kebijakan tersebut tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045.

Melalui kebijakan itu, Indonesia diarahkan untuk beralih dari pemasok bahan mentah di pasar global menjadi produsen bioproduk bernilai tambah tinggi yang mampu bersaing. Pengembangan bioekonomi juga diterjemahkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 yang selaras dengan visi Asta Cita, terutama dalam membangun kemandirian pangan, energi, dan air.

“Bappenas saat ini tengah memformulasikan Peta Jalan Bioekonomi Indonesia, yang ditargetkan untuk diadopsi secara resmi pada akhir tahun 2026. Peta jalan ini akan menguraikan prioritas klaster, rencana aksi, langkah cepat (quick wins), serta peran jelas dari para pemangku kepentingan,” urai Leonardo di Jakarta, Rabu (28/10/2026).

Biosolusi untuk Ketahanan Energi

Penerapan biosolusi diarahkan untuk mendukung sejumlah target pembangunan, termasuk memperkuat kemandirian energi. Leonardo menyebut implementasi mandat biodiesel B50 yang efektif sejak 1 Juli 2026 serta target bauran bioetanol 20% atau E20 pada 2028 sebagai bagian dari langkah tersebut.

Dari sisi ekonomi, nilai sektor biosolusi di Indonesia diproyeksikan meningkat hampir tiga kali lipat. Nilainya diperkirakan naik dari hampir US$1 miliar saat ini menjadi US$2,23 miliar pada 2035.

Pengembangan biosolusi tidak terbatas pada sektor energi. Pemanfaatan biologi dan teknologi terkait juga dinilai dapat mendukung sistem pangan nasional, antara lain melalui upaya mengurangi ketergantungan pada impor pupuk dan pakan ternak.

Teknologi Biologi untuk Industri

Vice President of Global Communications and External Relations Novonesis, Stine Hove Marsling, menilai biosolusi memiliki peran penting dalam mendukung target pembangunan Indonesia. Menurutnya, dunia sedang memasuki revolusi industri baru yang bertumpu pada pemanfaatan biologi.

Di sektor energi, enzim dan mikroorganisme dapat digunakan untuk mengolah sisa bahan baku alami menjadi bioenergi melalui proses penyulingan hayati atau biorefineries. Pemanfaatan teknologi tersebut membuka peluang untuk mengolah sumber daya yang tersedia menjadi produk dengan nilai tambah.

“Biosolusi adalah mesin pertumbuhan ekonomi sekaligus katalis bagi industri dalam negeri. Solusi ini memberdayakan perusahaan untuk memproduksi lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit secara berkelanjutan, menurunkan konsumsi energi, memastikan hasil yang lebih tinggi, dan mengurangi penggunaan bahan kimia,” jelas Marsling.

Menurut Marsling, penerapan biosolusi dapat membantu industri meningkatkan produktivitas dengan penggunaan sumber daya yang lebih efisien. Pendekatan tersebut juga diarahkan untuk menekan konsumsi energi dan penggunaan bahan kimia.

Dengan dukungan kebijakan pemerintah dan teknologi dari pelaku industri, biosolusi diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi keanekaragaman hayati Indonesia. Pengembangannya menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi hijau yang memberikan manfaat bagi industri maupun masyarakat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online