Neraca Dagang RI Defisit US$450 Juta pada Juni, Impor Lampaui Ekspor
Neraca dagang Indonesia defisit US$450 juta pada Juni 2026. BPS mencatat impor melampaui ekspor, terutama akibat defisit komoditas migas.
PLTS Terapung - Ilustrasi/StockCake
Harianjogja.com, JAKARTA— Target pembangkitan listrik dari Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya mencapai 20 MW–30 MW dari pengolahan 1.500 ton sampah per hari. Namun, besarnya listrik yang dihasilkan sangat bergantung pada karakteristik sampah yang masuk serta efisiensi teknologi yang digunakan.
Kepala Pusat Riset Teknologi Konversi Energi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Tata Sutardi mengatakan, secara teori PSEL dengan kapasitas input lebih dari 1.000 ton sampah per hari berpotensi menghasilkan listrik sekitar 10 MW–25 MW.
Realisasi pembangkitan, menurut dia, tidak selalu berada pada angka yang sama. Nilai kalor sampah dan efisiensi termal teknologi PSEL menjadi faktor yang menentukan besarnya energi yang dapat dihasilkan.
“Jadi hasilnya dapat fluktuatif dan bergantung pada nilai kalor dari sampah yang masuk serta efisiensi termal dari teknologi PSEL yang digunakan,” kata Tata, dikutip Minggu (20/9/2026).
Karakteristik Sampah Jadi Penentu
Tata menjelaskan tantangan utama pengolahan sampah perkotaan atau municipal solid waste (MSW) di Indonesia adalah karakteristik sampah yang umumnya masih bercampur.
Kandungan air yang tinggi dapat menurunkan potensi energi yang dihasilkan. Sebaliknya, sampah dengan kondisi lebih kering mempunyai nilai kalor yang lebih tinggi sehingga lebih potensial untuk dikonversi menjadi energi.
Karena itu, pemilahan dan pengeringan sampah dapat dilakukan untuk meningkatkan nilai kalor sebelum material tersebut masuk ke fasilitas pengolahan.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah mengolah sampah menjadi refuse derived fuel (RDF).
Untuk teknologi termal, Tata menyebut terdapat sejumlah teknologi yang telah tersedia dan diterapkan secara komersial di Indonesia dalam skala besar, antara lain insinerasi dan gasifikasi.
Pada teknologi insinerasi, sampah dibakar untuk menghasilkan panas. Panas tersebut kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin uap dan menghasilkan listrik.
Sementara itu, gasifikasi mengubah sampah menjadi gas sintetik atau syngas yang selanjutnya digunakan untuk menggerakkan mesin gas.
Sebagai pembanding, PSEL di Bantar Gebang dengan umpan sekitar 80 ton–90 ton sampah per hari disebut dapat menghasilkan listrik sekitar 700 kWh.
Menurut Tata, angka pembangkitan tersebut juga dapat mengalami perubahan karena dipengaruhi kondisi bahan baku dan efisiensi teknologi yang digunakan.
PSEL Bogor Raya Olah 1.500 Ton Sampah
Pemerintah sendiri menetapkan target pembangkitan PSEL Bogor Raya sebesar 20 MW–30 MW dari pengolahan 1.500 ton sampah baru per hari.
Listrik yang dihasilkan dari fasilitas tersebut nantinya akan dibeli oleh PT PLN (Persero).
Pembangunan PSEL Bogor Raya tidak hanya diarahkan untuk menangani sampah baru. Proyek tersebut juga menggabungkan pengolahan sampah baru dengan penanganan timbunan lama yang berada di TPAS Galuga.
Skemanya dibedakan berdasarkan usia sampah. Sampah baru akan diolah menjadi listrik melalui PSEL, sedangkan timbunan sampah lama akan ditangani menggunakan teknologi pirolisis.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan integrasi dua teknologi tersebut menjadi model pertama di Indonesia.
“Ini yang pertama di Indonesia. Sampah yang datang setiap hari kita selesaikan melalui PSEL menjadi energi listrik. Tetapi kita tidak berhenti di sana. Sampah lama yang sudah bertahun-tahun menumpuk juga harus kita tuntaskan dengan teknologi pirolisis. Jadi yang baru selesai, yang lama juga kita bereskan,” ujar Zulkifli dalam keterangan resmi.
Teknologi pirolisis ditargetkan mengolah sekitar 700 ton–1.000 ton timbunan sampah lama per hari.
Pemerintah berharap penerapan teknologi tersebut dapat mengurangi akumulasi sampah di TPAS Galuga secara bertahap.
Timbunan Lama TPAS Galuga Ikut Ditangani
Zulkifli mengatakan penanganan timbunan lama menjadi bagian penting dalam proyek tersebut. Fasilitas pengolahan sampah baru pada dasarnya hanya mencegah bertambahnya timbunan, tetapi tidak otomatis menyelesaikan sampah yang telah menumpuk sebelumnya.
“TPAS Galuga termasuk yang kondisinya darurat. Karena itu, yang kita dahulukan adalah daerah-daerah yang darurat dan memberikan dampak buruk bagi masyarakat. Persoalan sebesar ini tidak mungkin diselesaikan Bogor sendiri. Pemerintah pusat harus turun dan kita kerjakan bersama-sama,” ujarnya.
PSEL Bogor Raya merupakan salah satu dari tiga proyek PSEL gelombang pertama yang ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).
Dua proyek lainnya adalah PSEL Kota Bekasi dan PSEL Denpasar Raya.
Pemerintah menilai pendekatan yang digunakan PSEL Bogor Raya memiliki perbedaan karena menggabungkan teknologi untuk mengolah sampah baru menjadi energi sekaligus mengurangi timbunan sampah lama.
Pemerintah Sederhanakan Prosedur Pembangunan
Di sisi lain, Zulkifli mengatakan pemerintah mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah melalui penyederhanaan prosedur dan regulasi.
Sebelumnya, pembangunan fasilitas pengolahan sampah dapat memakan waktu hingga sekitar 11 tahun karena prosedur yang panjang dan kompleks.
“Dulu penanganan sampah rumit karena masing-masing berjalan sendiri-sendiri. Atas perintah Presiden kemudian dilakukan penyederhanaan prosedur dan aturan. Kita ingin masalah sampah diselesaikan, bukan dipersulit oleh aturan,” kata Zulkifli.
Pemerintah berharap model PSEL Bogor Raya dapat diterapkan lebih luas untuk menghentikan penambahan timbunan sampah baru sekaligus mengurangi sampah yang telah menumpuk.
“Kalau model ini berhasil, Bogor bisa menjadi contoh bagaimana Indonesia menyelesaikan persoalan sampah secara menyeluruh,” tutup Zulkifli.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Neraca dagang Indonesia defisit US$450 juta pada Juni 2026. BPS mencatat impor melampaui ekspor, terutama akibat defisit komoditas migas.
Jadwal KRL Solo-Jogja Senin 21 September 2026 lengkap dari Palur, Solo Jebres, Klaten, Lempuyangan hingga Stasiun Jogja/Tugu.
Pelaku otomotif nasional dan mitra Jepang menyampaikan masukan soal perizinan, pembiayaan IKM, TKDN hingga kepastian investasi.
Laju Peduli telah mengirim lebih dari 900 ton gandum ke Palestina selama delapan tahun. Bantuan dihimpun dari sedekah masyarakat.
Persib Bandung comeback dan menang 2-1 atas Persijap Jepara pada pekan ketiga Super League 2026/27 lewat gol Thom Haye dan Uilliam Barros.
Pemkot Jogja memperkuat kolaborasi dengan ormas untuk menangani persoalan sampah, budaya, kerukunan, pendidikan, dan generasi muda.