Target 100 GWp PLTS Indonesia Dinilai Jelas, Jaringan Jadi Tantangan

Newswire
Newswire Jum'at, 02 Oktober 2026 01:37 WIB
Target 100 GWp PLTS Indonesia Dinilai Jelas, Jaringan Jadi Tantangan

Foto ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), untuk program Waste to Energy atau Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL). Foto dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, JAKARTA— Indonesia dinilai memiliki arah yang jelas menuju energi bersih selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Salah satu indikatornya terlihat dari target pemerintah membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 gigawatt peak (GWp).

Peneliti sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menilai langkah tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mendorong transisi energi.

“Rapornya cukup baik, arah yang jelas menuju energi bersih,” ujar Yayan ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Kamis.

Menurut dia, selain mendorong pembangunan PLTS dalam skala besar, pemerintah juga berencana mengurangi penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap.

“Target ini menempatkan Indonesia di antara program surya terbesar dunia,” ucap Yayan.

Batu Bara Masih Dominasi Kelistrikan Indonesia

Meski arah menuju energi bersih dinilai semakin jelas, Yayan mengingatkan bahwa batu bara masih mendominasi sistem kelistrikan Indonesia.

Dia menyebut batu bara memasok sekitar 80 GW dari total 120 GW kapasitas listrik nasional. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya tantangan yang harus dihadapi dalam proses peralihan menuju sumber energi yang lebih bersih.

Selain itu, emisi dari sektor listrik masih berada di atas 350 juta ton setara karbon dioksida per tahun.

Menurut Yayan, kondisi tersebut membuat pembangunan energi terbarukan tidak cukup hanya mengandalkan penambahan kapasitas pembangkit. Infrastruktur pendukung juga perlu disiapkan agar listrik yang dihasilkan dapat diserap oleh sistem.

Jaringan dan Baterai Jadi Kunci

Yayan menilai pemerintah perlu mempersiapkan jaringan listrik dan sistem penyimpanan energi sebelum membangun PLTS dalam jumlah besar.

Hal itu karena produksi listrik tenaga surya bersifat naik-turun mengikuti kondisi cuaca. Ketika jaringan tidak cukup kuat dan kapasitas baterai penyimpanan belum memadai, tambahan tenaga surya akan sulit diserap oleh sistem kelistrikan.

“Inilah hambatan yang paling mengikat, bukan dana atau besarnya target,” kata Yayan.

Karena itu, dia merekomendasikan penguatan jaringan transmisi serta pembangunan sistem baterai sebagai bagian dari persiapan menuju peningkatan kapasitas PLTS.

“Tanpa ini, target 100 GWp sulit dicapai. Kemudian, manfaatkan permintaan 100 GWp untuk membangun pabrik panel surya dan baterai di dalam negeri, sekaligus melatih tenaga kerja. Inilah jembatan dari energi bersih menuju ekonomi yang naik kelas,” ucap Yayan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online