Lima Film Pendek Angkat Kisah Warga Bali Menghadapi Krisis Iklim

Newswire
Newswire Minggu, 18 Oktober 2026 08:57 WIB
Lima Film Pendek Angkat Kisah Warga Bali Menghadapi Krisis Iklim

Ilustrasi perubahan iklim./JIBI

Harianjogja.com, JOGJA—Persoalan perubahan iklim tidak hanya berkaitan dengan kenaikan suhu bumi, tetapi juga menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat, mulai dari nelayan yang menghadapi persoalan hasil tangkapan hingga warga yang kesulitan mendapatkan air bersih. Berbagai persoalan tersebut diangkat melalui pemutaran lima film pendek dalam ajang Pekan Iklim Bali 2026.

Program bertajuk Lensa Iklim Bali itu digagas Koalisi Bali Emisi Nol Bersih untuk menghadirkan cerita masyarakat yang selama ini jarang mendapat perhatian dalam pembahasan aksi dan solusi iklim.

Communications Specialist Koalisi Bali Emisi Nol Bersih, Aisyah Madeleine, mengatakan program tersebut berupaya mempertemukan kisah masyarakat dengan solusi iklim yang dijalankan lembaga mitra Pemerintah Provinsi Bali.

"Jadi Lensa Iklim Bali itu adalah programnya Koalisi Bali Energi Nol Bersih untuk mengangkat cerita-cerita masyarakat yang sebenarnya selama ini jarang terangkat ketika kita berbicara mengenai aksi dan solusi iklim seperti kehidupan sehari-hari nelayan bersama istrinya," kata Aisyah Madeleine.

Menurut Aisyah, film pendek dipilih sebagai medium untuk mendekatkan persoalan iklim kepada masyarakat. Melalui cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, isu seperti bahan bakar minyak, kekeringan, dan abrasi diharapkan lebih mudah dipahami.

Lima Film Pendek Angkat Persoalan Iklim

Dalam rangkaian Pekan Iklim Bali 2026, Koalisi Bali Emisi Nol Bersih menayangkan lima film pendek, yakni Satu Pemberhentian Lagi, Viewfinders, Memanen Matahari, Dapur Laut, dan Berlayar.

Kelima film tersebut dipilih melalui proses kurasi yang melibatkan pendaftaran terbuka dan wawancara mendalam. Proses ini dilakukan bersama Minikino dan anggota koalisi, dengan penggarapan film melibatkan organisasi serta lembaga lingkungan.

Aisyah menjelaskan proses produksi diawali dengan lokakarya yang berlangsung cukup panjang. Dalam kegiatan tersebut, anggota koalisi membagikan pengetahuan mengenai berbagai persoalan iklim kepada tim produksi.

Tantangannya adalah mengemas isu yang kompleks menjadi cerita yang tetap menarik untuk ditonton dan memiliki penyelesaian yang jelas.

"Karena isu kita berat ya, jadi kita mencoba untuk bagaimana caranya dia bisa cocok ke format yang masih enak ditonton dan tidak menggantung, yang penting konklusif," ujar Aisyah.

Dapur Laut Menyoroti Kehidupan Nelayan Kusamba

Salah satu film yang mengangkat persoalan langsung di tengah masyarakat adalah Dapur Laut. Film dokumenter garapan produser Rio Kharisma tersebut menyoroti berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat di Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali.

Proses penggarapan film menghadapi tantangan dalam menentukan subjek dan menggali persoalan di lapangan. Menurut Rio, waktu riset yang tersedia relatif singkat, sedangkan masalah yang ditemukan di kawasan tersebut cukup beragam.

"Sulitnya itu lebih ke memilih subjek, lalu karena waktunya juga lumayan sebentar untuk riset dan menggali isu apa yang terjadi di sana, sementara banyak sekali masalah di sana mulai dari ikan yang tidak ada sejak COVID-19 hingga abrasi," tutur Rio.

Dalam proses dokumentasi, Rio akhirnya memilih seorang nelayan setempat bernama Pak Nengah sebagai tokoh utama. Pemilihan tersebut dilakukan setelah terjalin kecocokan dan kenyamanan selama koordinasi di lapangan.

Kisah nelayan tersebut menjadi salah satu cara untuk memperlihatkan bagaimana persoalan lingkungan dan perubahan kondisi alam berkaitan dengan kehidupan masyarakat pesisir.

Memanen Matahari Angkat Solusi Krisis Air Bersih

Selain dokumenter tentang kehidupan nelayan, film pendek Memanen Matahari atau Where the Sun is Harvested juga mendapat respons positif. Film fiksi produksi Dian Suryantini tersebut dibintangi anak-anak dan mengangkat pemanfaatan energi surya melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap.

Cerita film berlatar Desa Bondalem, Buleleng, Bali, dengan persoalan krisis air bersih sebagai isu utama. Kisahnya memperlihatkan pemanfaatan energi surya untuk mendukung pasokan air bagi masyarakat desa.

Dian mengatakan tim produksi menyiapkan naskah sendiri. Namun, ketika memasuki proses pembacaan naskah atau reading, anak-anak diberi ruang untuk menyampaikan dialog menggunakan bahasa mereka sendiri.

"Kami menyiapkan skrip sendiri, tetapi dalam perjalanan reading kami juga membebaskan anak-anak ini untuk mengekspresikan apa yang ingin mereka katakan dengan bahasa mereka sendiri, tidak mesti terpaku ke teks agar mereka bisa berbicara secara bebas dan nyaman," kata Dian.

Pendekatan tersebut membuat anak-anak dapat mengekspresikan diri dengan lebih leluasa. Mereka juga mulai memahami kondisi lingkungan tempat tinggalnya, terutama mengenai ketersediaan air bersih.

Desa Bondalem tidak memiliki sumber mata air sehingga pasokan air sepenuhnya bergantung pada sumur bor yang menggunakan tenaga surya.

Melalui Lensa Iklim Bali, Koalisi Bali Emisi Nol Bersih berupaya menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan persoalan yang jauh dari kehidupan masyarakat. Cerita mengenai nelayan, abrasi, dan kebutuhan air bersih menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan sekaligus solusi iklim di tingkat lokal.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online