Water Intake dan Sekat Kanal Jadi Strategi Cegah Karhutla

Newswire
Newswire Minggu, 01 November 2026 15:47 WIB
Water Intake dan Sekat Kanal Jadi Strategi Cegah Karhutla

Foto ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. - Magnific

Harianjogja.com, SUMATERA SELATAN—Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat mendorong pemulihan tata air di kawasan gambut sebagai salah satu langkah mitigasi dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Sumatera Selatan.

Upaya tersebut dilakukan antara lain melalui penerapan metode water intake dengan memanfaatkan sumber air dari sungai agar aliran air dapat kembali masuk ke lahan gambut. Langkah ini diharapkan mampu menjaga kelembapan gambut sehingga risiko kebakaran dapat ditekan.

"Salah satu upaya yang dilakukan yakni menerapkan metode water intake dengan memanfaatkan sumber air dari sungai agar dapat kembali mengalir dan masuk ke lahan gambut," kata Jumhur usai meninjau lokasi karhutla di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Minggu.

Selain water intake, pemerintah juga mengoptimalkan pemanfaatan sekat kanal untuk mempertahankan ketersediaan air di kawasan gambut. Infrastruktur tersebut berfungsi menahan aliran air agar tidak cepat terbuang, sehingga lahan tetap basah, terutama saat memasuki musim kemarau.

Gotong Royong Jadi Bagian Pencegahan Karhutla

Jumhur mengatakan pencegahan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Keterlibatan aktif satuan tugas melalui kegiatan gotong royong juga diperlukan untuk memperkuat upaya di lapangan.

"Kegiatan gotong royong ini perlu diperkuat dan dilakukan secara masif. Harapannya, pada tahun depan langkah-langkah pencegahan yang kita lakukan sekarang dapat membantu mencegah terjadinya karhutla," ujarnya.

Menurutnya, pemulihan tata air gambut dan penguatan kegiatan pencegahan menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga ekosistem gambut. Langkah tersebut sekaligus ditujukan untuk mengurangi dampak kebakaran terhadap lingkungan maupun kehidupan masyarakat.

Dalam kunjungan kerja ke Kabupaten OKI tersebut, Jumhur didampingi Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) Satyawan Pudyatmoko.

Satyawan mengatakan pihaknya akan memperkuat koordinasi dan konsolidasi agar program konkret serta arahan Presiden dapat dijalankan. Salah satu fokusnya adalah menjadikan desa sebagai ujung tombak pencegahan karhutla.

"Kita akan identifikasi desa mana saja menjadi prioritas," katanya.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali menjadi tantangan lingkungan serius yang memicu dampak multidimensi terhadap ekosistem dan kesehatan publik.

Fenomena tahunan ini dipicu oleh kombinasi faktor cuaca ekstrem, musim kemarau panjang yang diperparah dinamika iklim global, serta pembukaan lahan yang tidak ramah lingkungan.

Dampak langsungnya tidak hanya dirasakan melalui hilangnya jutaan hektare kawasan hutan lindung dan habitat flora-fauna endemik, tetapi juga kepulan kabut asap tebal yang mengganggu aktivitas sosial serta memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut di berbagai wilayah terdampak.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online