Gerai KDMP Bantul Punya Waktu 3 Bulan untuk Benahi Catatan Teknis
Tim Verval menemukan sejumlah catatan pembangunan gerai KDMP di 8 lokasi Bantul. Pengelola diberi waktu sekitar 3 bulan untuk memperbaikinya.
Jajaran Coca-Cola Foundation Indonesia bersama perangkat kewilayahan di Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Solo bergambar bersama seusai meresmikan fasilitas pengolahan sampah pada Kamis (8/10/2026)./Harian Jogja-Yosef Leon
Harianjogja.com, SOLO—Pengelolaan sampah organik di kawasan padat penduduk Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Solo, dikembangkan melalui fasilitas pengolahan berbasis masyarakat. Program ini diharapkan dapat mengurangi sampah rumah tangga yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA), sekaligus mendorong warga mengelola sampah secara mandiri dan menjaga kesehatan lingkungan.
Ketua Coca-Cola Foundation Indonesia, Triyono Prijosoesilo, mengatakan pengembangan fasilitas tersebut merupakan kelanjutan dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Sebelumnya, Coca-Cola Foundation Indonesia telah memfasilitasi program Master Meter di kawasan itu berupa penyaluran air PDAM ke sejumlah rumah tangga pada 2024.
Menurut Triyono, penyediaan akses air bersih perlu diikuti dengan pengelolaan sampah yang memadai. Terlebih, Gilingan merupakan kawasan perkotaan dengan kepadatan penduduk tinggi sehingga persoalan sampah dapat berdampak terhadap kesehatan lingkungan.
“Air adalah yang utama. Cuma setelah itu kami juga mesti melihat tantangan di kelompok masyarakat sendiri. Kalau airnya ada, tetapi pengelolaan sampahnya kurang baik, mau tidak mau berdampak pada kesehatan,” ujarnya, Kamis (8/10/2026).
Ia menjelaskan pengembangan program dilakukan melalui kolaborasi dengan lembaga yang memiliki pengalaman dalam pengelolaan sampah. Salah satu fokusnya adalah mengolah sampah organik sejak dari sumbernya agar tidak seluruhnya berakhir di TPA.
"Kami berharap upaya ini dapat mendukung peningkatan taraf hidup masyarakat, termasuk menjaga kesehatan lingkungan dan mempertahankan dampak positif program sebelumnya terhadap penurunan stunting," ujarnya.
Komposter Jadi Solusi Pengolahan Sampah di Kawasan Padat
Founder Resik Plus, Bayu Imamtoko, menjelaskan pengelolaan sampah di kawasan padat seperti Gilingan menghadapi tantangan keterbatasan lahan. Metode tradisional menggunakan lubang tanah atau jugangan sulit diterapkan karena tidak semua rumah tangga memiliki ruang yang memadai.
Karena itu, diperlukan alternatif pengolahan yang dapat diterapkan tanpa membutuhkan lahan luas. Salah satu metode yang digunakan dalam program tersebut adalah komposter berbahan plastik daur ulang bernilai rendah.
Wadah komposter itu dimanfaatkan untuk mengolah sisa makanan hingga terurai menjadi kompos. Dengan pengolahan langsung di lingkungan masyarakat, sampah organik diharapkan tidak perlu seluruhnya diangkut keluar kawasan untuk dibuang ke TPA.
"Pengolahan sampah organik dengan cara itu berpotensi menyelesaikan sekitar 60% persoalan sampah di wilayah ini. Dengan demikian, sampah organik tidak perlu diangkut keluar kawasan untuk dibuang ke TPA," katanya.
Potensi pengurangan sampah hingga sekitar 60% tersebut menjadi salah satu sasaran dari penerapan pengolahan organik di Gilingan. Program ini mendorong masyarakat memanfaatkan sisa makanan sebagai bahan kompos, bukan sekadar membuangnya bersama sampah lainnya.
Mesin Pencacah Plastik untuk Meningkatkan Nilai Ekonomi
Selain mengolah sampah organik, program di Gilingan juga menyasar sampah anorganik, terutama plastik. Untuk mendukung upaya tersebut, pengelola menyediakan bantuan mesin pencacah plastik.
Pengolahan plastik melalui mesin pencacah diharapkan dapat meningkatkan nilai jual sampah sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Dengan demikian, program tidak hanya berfokus pada pengurangan timbunan sampah, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan sampah anorganik agar lebih bernilai.
Bayu berharap fasilitas dan metode yang dikembangkan di Gilingan dapat diterapkan lebih luas di wilayah lain.
"Harapan kami program di Gilingan dapat menjadi percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Solo," ujarnya.
Peresmian Fasilitas Bagian dari Rangkaian Program Coca-Cola Foundation Indonesia
Peresmian fasilitas pengolahan sampah di Solo tersebut menjadi bagian dari rangkaian kunjungan dan peninjauan sejumlah fasilitas yang dibangun Coca-Cola Foundation Indonesia.
Sehari sebelumnya, dilakukan peresmian warung usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berlokasi di Embung Doho, Wonogiri. Kegiatan tersebut merupakan perluasan manfaat dari proyek yang dibangun pada 2018 silam.
Pengembangan fasilitas pengelolaan sampah di Gilingan melanjutkan upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat yang sebelumnya dilakukan melalui penyediaan akses air bersih. Melalui pengolahan sampah organik dan anorganik, program ini diharapkan dapat mendukung kebersihan lingkungan, mengurangi sampah yang dibawa ke TPA, serta mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah secara mandiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tim Verval menemukan sejumlah catatan pembangunan gerai KDMP di 8 lokasi Bantul. Pengelola diberi waktu sekitar 3 bulan untuk memperbaikinya.
Kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 10,58 juta hingga Agustus 2026, tumbuh 5,38%. Perjalanan wisnus tercatat 842,15 juta.
BRI bersama Eastspring Investments Indonesia menghadirkan tiga reksa dana baru dengan minimum investasi Rp100.000 untuk memperluas pilihan investasi dan menduku
Wagub DIY Paku Alam X melepas 12 atlet SOIna ke Pesonas 2026 di Kupang. Atlet dan pendamping diminta menjaga kesehatan selama kompetisi.
Disdik Sleman mencatat kekurangan 287 guru SD dan SMP. Pemerataan tenaga pendidik dan kerja sama dengan perguruan tinggi disiapkan.
Pertamina mengandalkan B50 untuk menekan impor solar 18 juta kiloliter, menghemat devisa Rp170 triliun, dan mengurangi emisi pada 2026.