Zulhas Target 80 Persen Sampah RI Tertangani Lewat PSEL 2029
Foto ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), untuk program Waste to Energy atau Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL). Foto dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah menargetkan sebagian besar persoalan sampah nasional dapat ditangani dalam tiga tahun ke depan hingga 2029, melalui percepatan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) serta penguatan kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa transformasi pengelolaan sampah tidak dapat hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga harus disertai perubahan perilaku masyarakat secara menyeluruh.
Ia menyebut pemerintah saat ini tengah mempercepat pembangunan fasilitas waste to energy, sementara masyarakat diharapkan berperan aktif melalui pemilahan sampah sejak dari rumah tangga.
Pernyataan tersebut disampaikan Zulkifli Hasan saat menjadi Pembina Apel Siaga Jaga Jakarta Pilah Sampah di Monumen Nasional, Jakarta, yang diikuti sekitar 15.000 peserta dari unsur pemerintah, komunitas, relawan lingkungan, dan masyarakat.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang dinilai telah menjadi salah satu daerah penggerak utama gerakan pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga dengan melibatkan RT, RW, hingga komunitas warga.
“Pemerintah sedang melakukan reformasi besar dalam pengelolaan sampah melalui pembangunan fasilitas waste to energy. Namun itu saja tidak cukup. Reformasi ini harus berjalan paralel dengan gerakan masyarakat memilah sampah dari rumah. Sampah organik bisa menjadi pupuk, sampah anorganik bisa didaur ulang dan memiliki nilai ekonomi,” ujar Zulkifli, dikutip Senin (22/6/2026).
BACA JUGA
Ia menegaskan bahwa kombinasi antara pembangunan fasilitas pengolahan, pengelolaan kawasan, serta perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam mempercepat penyelesaian persoalan sampah nasional yang selama ini menjadi tantangan besar.
“Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan pemerintah sendirian. Jika pemerintah membangun teknologinya dan masyarakat membangun kebiasaan memilah sampah dari rumah, kita bisa mewujudkan Indonesia yang lebih bersih, sehat, dan produktif,” ujarnya.
Melalui berbagai langkah tersebut, pemerintah menargetkan sekitar 70% hingga 80% persoalan sampah nasional dapat tertangani pada 2029, seiring dengan pengembangan fasilitas PSEL di berbagai wilayah prioritas.
Kementerian Koordinator Bidang Pangan saat ini juga mendorong percepatan pembangunan PSEL sesuai mandat Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025, dengan fokus pada kawasan perkotaan atau aglomerasi yang menghasilkan sampah lebih dari 1.000 ton per hari.
Pemerintah mencatat terdapat sekitar 30 lokasi PSEL yang direncanakan untuk dikembangkan dalam beberapa tahun ke depan sebagai bagian dari strategi nasional pengelolaan sampah.
Dari jumlah tersebut, tiga proyek PSEL disebut akan segera memasuki tahap groundbreaking, sementara 12 lokasi lainnya masih dalam proses melalui Danantara untuk pemilihan mitra dengan target operasional mulai 2028.
Pemerintah berharap pengembangan PSEL tidak hanya berfungsi mengurangi volume sampah, tetapi juga menghasilkan sumber energi baru serta meningkatkan nilai ekonomi dari limbah yang selama ini menjadi beban lingkungan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis
Share