Label Baked Tak Menjamin Keripik Lebih Sehat, Ini Faktanya
Keripik baked belum tentu lebih sehat, ahli gizi jelaskan perbedaan dan cara memilih camilan yang tepat.
Ilustrasi kekeringan - Foto dibuat oleh AI/StockCake
Harianjogja.com, NEW YORK—Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations High Commissioner for Refugees/UNHCR) mencatat 250 juta orang kehilangan tempat tinggal akibat bencana iklim selama dekade terakhir, dari banjir di Brasil hingga topan di Myanmar, memperlihatkan betapa daruratnya krisis iklim global. Jumlah itu setara dengan 70.000 orang setiap hari yang kehilangan tempat tinggal.
Seperti dikutip dari The Guardian, Senin (10/11/2025), banjir, badai, kekeringan, dan panas ekstrem kini menjadi pemicu utama pengungsian global, disusul bencana jangka panjang seperti penggurunan, kenaikan permukaan laut, serta rusaknya ekosistem yang membuat jutaan keluarga kehilangan sumber pangan dan air bersih.
Pada pertengahan 2025 saja, 117 juta orang hidup dalam pengungsian akibat perang, kekerasan, dan persekusi. UNHCR menyebut krisis iklim sebagai “pengganda risiko”, faktor yang memperparah konflik dan memperlebar jurang ketimpangan sosial di seluruh dunia.
Menurut laporan No Escape II: The Way Forward, jumlah negara yang melaporkan pengungsian akibat konflik dan bencana meningkat tiga kali lipat sejak 2009. Ironisnya, negara-negara miskin yang menampung jutaan pengungsi justru hanya menerima seperempat dari pendanaan iklim yang mereka butuhkan untuk bertahan.
“Mereka paling sedikit berkontribusi terhadap perubahan iklim, tapi paling keras menanggung akibatnya,” tulis laporan tersebut.
Kisah Nyata dari Lapangan
Bencana ekstrem kini terjadi hampir di setiap benua. Di Brasil, banjir besar di negara bagian Rio Grande do Sul pada Mei 2024 menewaskan 181 orang dan memaksa 580.000 penduduk mengungsi, termasuk ribuan pengungsi asal Venezuela, Haiti, dan Kuba yang sebelumnya melarikan diri dari krisis di negara mereka.
Setahun sebelumnya, Topan Mocha, badai paling mematikan dalam beberapa tahun, menghantam wilayah Rakhine, Myanmar, menghancurkan kamp pengungsian yang dihuni 160.000 etnis Rohingya.
“Saya kehilangan segalanya,” kata Ma Phyu Ma, 37 tahun, seorang pengungsi Rohingya. “Perahu dan jaring ikan kami hanyut. Pakaian yang saya jahit, satu-satunya sumber penghasilan, ikut lenyap.”
Pada 2024, sepertiga dari seluruh keadaan darurat yang diumumkan UNHCR berkaitan langsung dengan banjir, kekeringan, kebakaran hutan, dan cuaca ekstrem lainnya yang menimpa populasi yang sudah lebih dulu terusir akibat perang.
Krisis Ganda di Negara Paling Rentan
Tiga perempat pengungsi dunia kini hidup di negara dengan paparan risiko iklim ekstrem. Chad, misalnya, menampung lebih dari 1,4 juta pengungsi, sementara banjir tahun 2024 saja memaksa 1,3 juta orang meninggalkan rumah dan kamp mereka—lebih banyak dibanding total pengungsian 15 tahun sebelumnya.
Di tengah kekeringan parah, pengungsi dari Sudan hanya mendapat kurang dari 10 liter air per hari, jauh di bawah standar minimum kemanusiaan.
Hampir separuh populasi pengungsi dunia kini hidup di wilayah yang dilanda konflik dan bencana iklim bersamaan: Sudan, Suriah, Haiti, Kongo, Lebanon, Myanmar, dan Yaman. Negara-negara ini berkontribusi kecil terhadap emisi global, namun justru paling kekurangan akses ke pendanaan dan teknologi adaptasi iklim.
Peringatan untuk Dunia
UNHCR memperingatkan tanpa tindakan serius, dunia akan menghadapi gelombang pengungsian baru yang lebih besar. Pada tahun 2050, kamp pengungsi di daerah panas bisa mengalami hingga 200 hari tekanan panas berbahaya per tahun, membuat banyak wilayah tak lagi layak huni.
Menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB (Cop30) di Brasil, UNHCR mendesak negara-negara kaya untuk menyalurkan lebih banyak dana ke populasi yang paling rentan.
“Pemotongan dana membuat kami nyaris tak berdaya melindungi pengungsi dari cuaca ekstrem,” ujar Filippo Grandi, Komisaris Tinggi UNHCR. “Jika dunia ingin stabilitas, maka investasi harus diarahkan ke tempat yang paling berisiko. Jangan biarkan mereka berjuang sendirian. Cop30 harus memberi tindakan nyata, bukan janji kosong.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : The Guardian
Keripik baked belum tentu lebih sehat, ahli gizi jelaskan perbedaan dan cara memilih camilan yang tepat.
AI membuat pekerjaan kantoran makin terancam. Gen Z mulai melirik profesi teknis dan kerah biru yang menawarkan gaji tinggi serta sulit digantikan teknologi.
Remaja Korsel kini memilih SMK semikonduktor daripada kuliah. Lulusan langsung bekerja di Samsung dengan gaji Rp1,99 M/tahun, bonus hingga Rp7,1 M. AS juga keku
Ganda putra Indonesia punya 10 gelar juara dunia, terbanyak sepanjang sejarah. Fajar/Shohibul Fikri jadi tumpuan di BWF World Championships 2026 India. Bisa tam
Porsche Taycan dikabarkan bakal dihentikan produksinya pada 2030. Laporan media Jerman menyebut manajemen dan dewan pekerja telah sepakat. CEO Michael Leiters b
Slipknot resmi mengumumkan perpisahan dengan Sid Wilson setelah hampir tiga dekade bersama. Alasan keluarnya sang DJ masih menjadi misteri.