Anak Muda Berbagai Kota Ikuti RPOM di UGM, Diajak Kembangkan Pangan Lokal

Sunartono
Sunartono Sabtu, 31 Oktober 2026 06:17 WIB
Anak Muda Berbagai Kota Ikuti RPOM di UGM, Diajak Kembangkan Pangan Lokal

Puluhan anak muda berkumpul di UGM dalam Rembug Pangan Orang Muda untuk mendorong inovasi pangan lokal dan kedaulatan pangan nasional. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Kedaulatan pangan nasional tidak cukup diwujudkan dengan meningkatkan produksi. Perubahan pola konsumsi masyarakat dan keterlibatan generasi muda dalam mengembangkan pangan lokal juga dinilai penting untuk memperkuat ketahanan pangan.

Gagasan tersebut mengemuka dalam kegiatan Rembug Pangan Orang Muda (RPOM) Summit III 2026 yang digelar di Auditorium Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (30/10/2026). Puluhan anak muda dari berbagai daerah, mulai dari Sumatra, Sulawesi, hingga wilayah selatan Indonesia, berkumpul untuk membahas penguatan pangan lokal.

Momentum Sumpah Pemuda dipilih untuk menyimbolkan persatuan generasi muda dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional. Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya merespons tantangan ketersediaan pangan dan mendorong keterlibatan anak muda dalam rantai pasok pangan lokal.

Founder Foodbank of Indonesia (FOI), Muhammad Hendro Utomo, menjelaskan Rembug Pangan Orang Muda dirancang untuk memperkuat kapasitas generasi muda. Mereka diharapkan tidak hanya berperan sebagai konsumen, tetapi juga terlibat langsung dalam pengembangan sektor pangan.

"Kami sengaja mengambil momentum Sumpah Pemuda karena untuk menyimbolkan bahwa orang muda bersatu untuk memerdekakan Indonesia dalam arti tidak ada kelaparan, jadi merdeka 100 persen," ujar Hendro, Jumat (30/1/2026).

Hendro menjelaskan rangkaian kegiatan berlangsung selama beberapa hari. Setelah mengikuti pembekalan dan dialog, peserta akan diterjunkan langsung ke kawasan pertanian di Semanu, Gunungkidul.

Di lokasi tersebut, mereka akan tinggal bersama petani dan turun ke ladang selama dua malam. Peserta juga diajak mendiskusikan persoalan yang dihadapi petani, tantangan industri, serta merumuskan solusi melalui kelompok-kelompok diskusi.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan simulasi bisnis pangan lokal. "Melalui pengalaman tersebut, peserta diharapkan memperoleh gambaran mengenai persoalan sekaligus peluang pengembangan pangan lokal di daerah masing-masing," ucapnya.

Anak Muda Didorong Jadi Pencipta Nilai Tambah Pangan Lokal

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Profesor Eni Harmayani, menekankan pentingnya perubahan peran anak muda. Generasi muda diharapkan tidak berhenti sebagai konsumen, tetapi mampu menjadi pencipta nilai tambah bagi produk pangan lokal.

"Kami menekankan orang muda untuk bisa dari konsumen menjadi mereka pencipta peningkatan nilai dari pangan lokal. Jadi dari konsumen menjadi pencipta peningkatan nilai tambah untuk pangan lokal," tegasnya.

Ia juga menyoroti posisi strategis generasi muda sebagai community builder atau penggerak komunitas. Peran tersebut dinilai dapat membantu mengintegrasikan potensi pangan lokal menjadi bagian dari kebangkitan pangan nasional, terutama di tengah tantangan komersialisasi lahan saat ini.

Menurutnya gastronomi Indonesia tidak seharusnya hanya dipandang sebagai komoditas. Makanan juga menyimpan nilai budaya, sejarah, filosofi, hingga identitas daerah dan bangsa.

Karena itu, pengembangan gastronomi perlu dihubungkan dengan berbagai sektor, mulai dari pertanian, pangan, kesehatan, budaya, hingga ekonomi kreatif. Keterhubungan tersebut diharapkan dapat menciptakan ekosistem pangan lokal yang memiliki nilai tambah.

"Harapannya para peserta dapat kembali ke daerah masing-masing dengan membawa inovasi baru, pengalaman lapangan, serta solusi konkret dalam mengemas ekosistem gastronomi yang bernilai tambah tinggi," katanya.

Kedaulatan Pangan Perlu Dimulai dari Perubahan Konsumsi

Sementara itu, Guru Besar Bidang Ilmu Pemasaran Pertanian Fakultas Pertanin UGM, Profesor Jamhari, menegaskan kemandirian dan kedaulatan pangan nasional tidak akan tercapai jika penguatan sektor pangan hanya bertumpu pada peningkatan produksi.

Menurut dia, transformasi sistem pangan juga harus dimulai dengan mengubah pola konsumsi masyarakat. Selama ini, konsumsi pangan dinilai masih terlalu bergantung pada satu komoditas utama, yakni beras.

Ketergantungan terhadap satu jenis pangan tersebut dinilai berisiko mengurangi pemanfaatan kekayaan sumber daya hayati lokal yang tersebar di berbagai daerah Indonesia.

"Kita selama ini sangat tergantung pada satu komoditi saja yaitu nasi. Padahal, jika kita terus bergantung pada satu jenis pangan, hal itu justru mendegradasi kekayaan sumber daya hayati yang lain dan semakin berisiko bagi ketahanan bangsa," ujarnya.

Jamhari mencontohkan potensi sagu di Kepulauan Riau dan Kepulauan Meranti. Di wilayah tersebut, sagu tidak hanya dikonsumsi dalam bentuk tradisional, tetapi juga diolah secara modern menjadi mi sagu yang memiliki cita rasa tinggi dan lezat.

Contoh lainnya terdapat di DIY, khususnya Bantul dan Kulonprogo. Inovasi pangan lokal seperti mi letek berbahan ubi kayu telah berkembang dan menjadi ikon kuliner khas yang legendaris, seperti di kawasan Imogiri.

Ia menegaskan perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi salah satu langkah penting untuk mengoptimalkan potensi pangan lokal. Dengan membangun kebiasaan mengonsumsi beragam pangan, kekayaan hayati Indonesia diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mendorong kesejahteraan bersama.

"Memang kita mulainya itu harus dari konsumsi, bukan dari produksi. Bagaimana kita membentuk pola dan perilaku konsumsi berbasis pangan lokal. Jika tidak dibentuk, kekayaan hayati kita tidak bisa dikapitalisasi untuk menggerakkan kesejahteraan bersama."

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online