NASA Soroti Karhutla Papua, Emisi Karbon Tembus 35 Megaton

Magnis Pasko Tjopa
Magnis Pasko Tjopa Kamis, 29 Oktober 2026 11:17 WIB
NASA Soroti Karhutla Papua, Emisi Karbon Tembus 35 Megaton

Citra dari NASA\'s Eyes on the Earth dan menampilkan sebaran gas karbon monoksida berwarna merah di wilayah Indonesia./NASA

Harianjogja.com, JAKARTA—Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua menjadi sorotan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) setelah memicu peningkatan polusi dan emisi karbon sepanjang September-Oktober 2026. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 2.393 hektare lahan terbakar di Papua hingga 28 Oktober 2026.

Karhutla tersebut berdampak pada kualitas udara dan aktivitas masyarakat. Asap kebakaran dilaporkan memicu pembatalan penerbangan, penutupan sekolah, hingga desakan penggunaan masker.

NASA menyebut kekeringan akibat fenomena El Nino menjadi salah satu penyebab kebakaran hutan dan lahan di Papua. Kondisi kering tersebut turut memicu kemunculan asap tebal dan peningkatan tingkat polusi.

Emisi Karbon Papua Meningkat

Citra satelit NOAA-20 dengan instrumen Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) mendokumentasikan asap tebal di wilayah selatan Papua pada 11 Oktober. Pengamatan tersebut menjadi salah satu gambaran kondisi kebakaran yang terjadi di kawasan tersebut.

Sementara itu, Global Fire Emissions Database (GFED) mencatat kebakaran di Papua Nugini menghasilkan emisi karbon sebanyak 32 megaton. Angka tersebut menjadi emisi tertinggi yang tercatat dalam sejarah nasional Papua Nugini.

Di wilayah Papua, emisi karbon tercatat lebih dari 35 megaton. Jumlah itu menjadi yang tertinggi setelah kejadian pada 1997 dan 2015, ketika fenomena El Nino juga menyebabkan kebakaran di Papua.

Peneliti University of California, Yang Chen, mengatakan tingginya angka kebakaran juga terlihat di Papua Nugini dan sejumlah wilayah Indonesia bagian timur.

“Kami sedang melihat angka kebakaran yang tinggi di Papua Nugini dan Indonesia Timur, khususnya di Kalimantan dan Papua,” jelas Chen.

Selain kebakaran, tekanan terhadap kawasan hutan juga menjadi perhatian. Global Forest Watch mencatat deforestasi seluas 27.000 hektare hutan di Papua pada 2025 akibat ekspansi industri minyak sawit dan kayu pulp, pertambangan, serta wilayah perkotaan.

Pemerintah Papua Siapkan Mitigasi Kekeringan

Pemerintah Provinsi Papua telah menyiapkan langkah mitigasi untuk mengantisipasi kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan. Persiapan tersebut dilakukan setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis potensi kekeringan pada November.

Gubernur Papua Matius Fakhiri mengatakan pemerintah daerah perlu mengantisipasi titik-titik api sejak dini dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten serta kota.

“Kita harus dari sekarang mengambil langkah cepat dan kolaborasi,” kata Fakhiri setelah rapat koordinasi di Jayapura, dikutip dari situs Pemprov Papua pada 26 Agustus 2026.

Fakhiri juga meminta dukungan pemerintah pusat serta jajaran TNI dan Polri untuk membantu penanganan kebakaran di lapangan. Menurut dia, personel dapat dikerahkan apabila kebakaran meluas.

“Prajurit TNI-Polri sangat siap untuk digerakkan apabila sudah menyebar luas. Prajurit bisa kita tempatkan di garis depan membantu pemerintah mengatasi kebakaran,” jelas Fakhiri.

Selain pengerahan personel, Fakhiri menyoroti kemungkinan pemanfaatan mobil water cannon untuk membantu distribusi air ketika terjadi kekeringan dan mendukung pemadaman kebakaran.

“Apabila terjadi kekeringan, masyarakat butuh air, bisa dipakai juga water cannon. Apabila butuh menyemprot lahan terbakar, ada juga mobil water cannon,” klaim Fakhiri.

Pemprov Papua juga mengimbau masyarakat dan pelaku usaha agar tidak membuka maupun memperluas lahan dengan cara membakar. Imbauan tersebut disampaikan di tengah kondisi kekeringan akibat El Nino.

BNPB Catat 73 Titik Api dalam 12 Jam

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengungkapkan luas lahan terbakar di Papua mencapai 2.393 hektare.

Selain itu, sedikitnya 73 titik api terpantau dalam kurun 12 jam terakhir. Kebakaran tersebut terjadi di tiga provinsi di Papua dan tersebar di delapan lokasi.

Data tersebut menjadi perhatian dalam upaya penanganan karhutla di Papua. Pemerintah daerah bersama instansi terkait didorong memperkuat koordinasi dan mitigasi untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, terutama di tengah potensi kekeringan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online