Trump Sebut Iran Bisa Tingkatkan Aksi Jelang Pemilu AS
Donald Trump memperkirakan Iran dapat meningkatkan aksinya menjelang pemilu paruh waktu AS di tengah konflik dan ketegangan di Selat Hormuz.
Area Kilang Hijau di Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap, Jawa Tengah./Antara-Kilang CIlacap\r\n
Harianjogja.com, CILACAP—Minyak jelantah yang selama ini identik dengan limbah rumah tangga dan usaha kuliner mulai dilirik sebagai bahan baku energi penerbangan berkelanjutan. PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap mengembangkan sustainable aviation fuel (SAF) berbasis minyak jelantah atau used cooking oil (UCO), sekaligus menyiapkan pembangunan kilang hijau yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2029.
Pengembangan ini tidak hanya berkaitan dengan teknologi pengolahan bahan bakar, tetapi juga mencakup kepastian pasokan minyak jelantah, kemitraan usaha, kesiapan pasar, hingga pembangunan fasilitas produksi. Melalui proyek tersebut, Pertamina berupaya memperluas pemanfaatan bahan baku terbarukan untuk mendukung transformasi industri energi dan kebutuhan bahan bakar penerbangan.
Area Manager Communication, Relations, and CSR PT Pertamina Patra Niaga RU Cilacap, Agustiawan, mengatakan pengembangan SAF membutuhkan proses panjang. Kesiapan teknologi, ketersediaan bahan baku, dan peluang pasar menjadi sejumlah faktor yang harus berjalan beriringan.
Perjalanan Pengembangan SAF Dimulai pada 2020
Pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan di Pertamina telah dimulai sejak Desember 2020 melalui metode co-processing. Metode ini menggabungkan bahan baku terbarukan dengan bahan baku konvensional menggunakan fasilitas pengolahan yang telah tersedia.
Pada tahap awal, Pertamina menguji produksi SAF dengan menyuntikkan Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO) sebesar 2% menggunakan katalis Pertamina. Uji coba berikutnya dilakukan pada Februari 2021 dengan meningkatkan persentase injeksi RBDPKO menjadi 2,4%.
Pengembangan kemudian berlanjut dari pengujian produksi menuju pembuktian penggunaan bahan bakar dalam penerbangan. Pada Oktober 2021, SAF digunakan dalam uji terbang pesawat CN235 pada rute Bandung-Jakarta.
Tahapan berikutnya berlangsung pada 2023 melalui pengujian penerbangan komersial menggunakan pesawat Garuda Indonesia Boeing 737-800NG dengan rute pulang-pergi Jakarta-Solo.
Rangkaian pengujian tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan teknologi sekaligus upaya memastikan bahan bakar memenuhi persyaratan sebelum digunakan dalam sektor penerbangan.
Pada 2024, Pertamina melanjutkan pengembangan SAF dengan menggunakan UCO atau minyak jelantah sebagai bahan baku. Pada tahap ini, perusahaan juga mengembangkan perubahan katalis dengan formulasi dari Teknologi Informasi Pertamina serta sertifikasi ISCC CORSIA yang berkaitan dengan standar keberlanjutan bahan bakar penerbangan.
Penggunaan minyak jelantah membuka peluang pemanfaatan limbah menjadi bahan baku bernilai tambah. Namun, pengolahannya membutuhkan sistem pengumpulan dan penanganan yang memadai agar kualitas bahan baku sesuai dengan kebutuhan produksi.
Minyak Jelantah Perlu Didukung Rantai Pasok yang Terjaga
VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, mengatakan pengembangan SAF merupakan bagian dari upaya perusahaan menghadirkan produk dan layanan energi yang sesuai dengan perkembangan industri. Sektor penerbangan menjadi salah satu bidang yang membutuhkan pengembangan bahan bakar lebih berkelanjutan.
“Bagi kami, keberlanjutan dan ketahanan energi bukan dua hal yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya perlu dibangun secara bersamaan,” ujar Kitty.
Menurut dia, pemanfaatan UCO dalam produksi SAF juga membuka kesempatan untuk memasukkan bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah ke dalam rantai nilai energi.
Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yaitu memaksimalkan pemanfaatan sumber daya agar menghasilkan nilai tambah sekaligus mengurangi potensi limbah.
Meski demikian, pengembangan SAF dalam skala industri tidak cukup hanya mengandalkan teknologi pengolahan. Produsen juga membutuhkan pasokan bahan baku dengan volume dan kualitas yang terjaga agar kegiatan produksi dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Pertamina merencanakan pengembangan rantai pasok dengan melibatkan masyarakat melalui skema bisnis ke konsumen. Pengadaan bahan baku melalui skema bisnis ke bisnis juga dipersiapkan untuk menjaga kepastian pasokan.
Sejumlah pihak yang tercantum dalam rencana kerja sama tersebut antara lain Sumitomo, Badan Gizi Nasional, Noovoleum, GAPULIMGI, GML, dan Kementerian Koperasi. Pertamina juga mencantumkan kerja sama penjualan melalui sales and purchase agreement (SPA) dengan Cathay.
Pelibatan berbagai pihak itu menunjukkan bahwa pengembangan SAF membutuhkan ekosistem yang lebih luas daripada fasilitas kilang. Jaringan pengumpulan minyak jelantah, mitra pengadaan, pengawasan kualitas, serta kerja sama dengan calon pengguna dan pembeli menjadi bagian penting dalam rantai produksi.
Biorefinery Cilacap Disiapkan dengan Investasi US$1,1 Miliar
Selain mengembangkan SAF melalui fasilitas yang tersedia, Pertamina Patra Niaga menyiapkan pembangunan biorefinery atau fasilitas pengolahan khusus berbasis bahan baku terbarukan di Cilacap.
PT Pertamina Patra Niaga memproyeksikan Kilang Cilacap menjadi proyek kilang hijau pertama di Indonesia yang difokuskan untuk memproduksi bahan bakar ramah lingkungan dalam skala besar. Fasilitas ini diharapkan memperkuat peran RU Cilacap dalam pengembangan energi hijau dan SAF nasional.
Proyek Biorefinery Cilacap memasuki tahapan penting melalui peletakan batu pertama fase kedua pada Februari 2026. Berbeda dengan metode co-processing yang memanfaatkan fasilitas pengolahan yang telah tersedia, proyek ini dirancang sebagai standalone dedicated green refinery atau kilang hijau khusus.
Pembangunan kilang bioavtur tersebut direncanakan menempati lahan seluas 17,5 hektare di dekat Kilang Unit IV Cilacap. Nilai investasinya diperkirakan mencapai US$1,1 miliar, dengan target fasilitas mulai beroperasi pada 2029.
Executive General Manager Pertamina Patra Niaga RU Cilacap, Hermawan Budiantoro, mengatakan proyek tersebut ditargetkan mulai berjalan pada 2027.
“Kami target proyek itu jalan pada 2027,” kata Hermawan.
Fasilitas biorefinery itu dirancang memiliki kapasitas pengolahan 6.000 barel per hari. Produk yang ditargetkan mencakup SAF dan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), dengan total produksi yang diproyeksikan sekitar 232.000 ton per tahun.
Untuk mendukung kapasitas tersebut, kebutuhan bahan baku minyak jelantah diperkirakan mencapai 315.000 ton per tahun. Selain UCO, bahan baku lain yang tercantum dalam rencana pengembangan meliputi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) serta palm oil mill effluent (POME).
Kapasitas SAF Cilacap Ditargetkan Meningkat pada 2029
Pengoperasian kilang bioavtur baru diproyeksikan meningkatkan kapasitas produksi SAF di Cilacap. Saat ini, produksi SAF pada unit Thermal Distillate Hydro Treating (TDHT) disebut mencapai 27 kiloliter per hari.
Dengan beroperasinya kilang bioavtur yang direncanakan, kapasitas produksi diproyeksikan meningkat sebesar 860 kiloliter per hari. Dengan demikian, total kapasitas produksi SAF ditargetkan mencapai 887 kiloliter per hari pada 2029.
Peningkatan kapasitas tersebut diharapkan memperkuat kemampuan Pertamina dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Namun, pencapaian target tetap bergantung pada penyelesaian pembangunan, kesiapan fasilitas, dan kepastian pasokan bahan baku.
Selain kapasitas produksi, proyek biorefinery juga diproyeksikan memberikan dampak terhadap perekonomian dan lingkungan. Pertamina memperkirakan proyek kilang bioavtur tersebut berpotensi mendongkrak produk domestik bruto (PDB) hingga Rp199 triliun per tahun.
Proyek itu juga diperkirakan menyerap sekitar 5.900 tenaga kerja. Dari sisi lingkungan, fasilitas tersebut diproyeksikan mengurangi emisi tahunan sekitar 600.000 ton setara karbon dioksida (CO2e).
Sementara itu, tingkat komponen dalam negeri (TKDN) ditargetkan mencapai 30%. Target tersebut menjadi bagian dari harapan agar pembangunan fasilitas turut membuka ruang bagi keterlibatan industri dan tenaga kerja dalam negeri.
Seluruh angka tersebut masih berupa proyeksi, bukan capaian yang telah terealisasi. Dampak ekonomi dan lingkungan pada akhirnya bergantung pada pelaksanaan proyek, tingkat produksi, sumber bahan baku, serta kinerja fasilitas ketika mulai beroperasi.
Pertamina Bidik Pasar Domestik dan Ekspor SAF
Pengembangan fasilitas produksi perlu diimbangi dengan kesiapan pasar yang mampu menyerap bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Pertamina memperkirakan potensi pasar SAF mencapai 160.000 kiloliter per tahun untuk pasar domestik dan 139.000 kiloliter per tahun untuk pasar ekspor.
Angka tersebut menggambarkan peluang pasar yang dapat dikembangkan, bukan jaminan bahwa seluruh produk akan terserap secara otomatis.
Strategi pengembangan pasar mencakup pemenuhan kebutuhan dalam negeri sekaligus memanfaatkan peluang ekspor. Kedua jalur tersebut memerlukan dukungan kebijakan dan insentif agar SAF memiliki daya saing dan dapat berkembang di tengah dinamika industri energi.
Kepastian permintaan juga menjadi faktor penting bagi keberlanjutan investasi. Ketika fasilitas pengolahan membutuhkan bahan baku dalam jumlah besar, produsen harus menjaga keseimbangan antara kapasitas produksi, ketersediaan pasokan, dan kebutuhan pasar.
Bagi Kilang Cilacap, pengembangan SAF menjadi bagian dari transformasi industri pengolahan energi. Pemanfaatan bahan baku alternatif dapat memperluas pilihan produk sekaligus mendukung pengembangan bahan bakar penerbangan yang lebih berkelanjutan.
Perjalanan minyak jelantah menjadi bahan bakar pesawat pada akhirnya melibatkan lebih dari sekadar proses pengolahan limbah. Teknologi, partisipasi masyarakat, kemitraan usaha, pembangunan fasilitas, dan kepastian pasar harus saling mendukung agar potensi bahan baku terbarukan tersebut dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Donald Trump memperkirakan Iran dapat meningkatkan aksinya menjelang pemilu paruh waktu AS di tengah konflik dan ketegangan di Selat Hormuz.
Harga minyak Indonesia mencapai US$91,9 per barel. Suahasil Nazara mengantisipasi kenaikan subsidi dan kompensasi energi yang menekan APBN.
Ditjenpas Jawa Barat memindahkan 120 warga binaan Rutan Depok ke Nusakambangan setelah kasus dugaan pesta sabu mencuat di media sosial.
KBRI Riyadh menyatakan belum ada laporan WNI menjadi korban serangan Bandara King Khalid. Sebanyak 12 orang meninggal dan 309 terluka.
Prabowo dan Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi membahas kerja sama perdagangan, investasi, industri pertahanan, serta dukungan untuk Palestina.
Disnaker Sleman mencatat 129 pencari kerja mengikuti Taksi Pekerja pada 2026. Namun, animo masyarakat dalam kegiatan rekrutmen masih minim.