Anggrek Mikro Batang Toru Jadi Penanda Kondisi Ekologis Hutan

Newswire
Newswire Minggu, 04 Oktober 2026 13:27 WIB
Anggrek Mikro Batang Toru Jadi Penanda Kondisi Ekologis Hutan

Anggrek epifit berukuran mikro di ekosistem Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan Sumatera Utara./Antara--Lembaga Sipirok Lestari.

Harianjogja.com, TAPANULI SELATAN— Keberadaan anggrek epifit berukuran mikro di ekosistem Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, menjadi penanda penting kondisi ekologis hutan. Lembaga Sipirok Lestari menyebut keberadaan tumbuhan tersebut menghadapi tekanan akibat kerusakan habitat dan perubahan iklim.

Ketua Lembaga Sipirok Lestari Amri Yasin Nasution mengatakan anggrek dari subtribe aeridinae tersebut tidak hanya menjadi bagian dari keanekaragaman hayati. Tumbuhan itu juga memiliki keterkaitan dengan organisme lain di dalam ekosistem hutan, termasuk semut hitam dari genus camponotus.

"Tumbuhan dari subtribe aeridinae tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari keanekaragaman hayati, tapi memiliki keterkaitan dengan organisme lain dalam ekosistem hutan, termasuk semut hitam dari genus camponotus," ujar Amri Yasin Nasution di Tapanuli Selatan, Minggu.

Menurut Amri, anggrek tersebut menyediakan nektar melalui kelenjar ekstrafloral. Sebagai bagian dari hubungan ekologis itu, semut dapat membantu melindungi tumbuhan dari organisme pemakan pucuk.

Hubungan antara anggrek dan organisme lain tersebut menunjukkan pentingnya menjaga setiap komponen dalam ekosistem. Organisme berukuran kecil yang kerap luput dari perhatian tetap memiliki peran dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Anggrek Bergantung pada Mikrohabitat Hutan

Amri menjelaskan kerusakan tutupan hutan, pembukaan lahan, pembalakan liar, dan fragmentasi habitat dapat mengganggu mikrohabitat anggrek epifit.

Tumbuhan tersebut bergantung pada kestabilan suhu dan kelembapan di bawah kanopi hutan hujan tropis. Karena itu, perubahan kondisi tutupan hutan dapat berdampak pada habitat tempat anggrek tersebut hidup.

"Anggrek mikro itu menjadi alarm visual bahwa kerusakan ekosistem tidak selalu langsung terlihat. Ada organisme kecil yang kehidupannya sangat bergantung pada keutuhan hutan."

Tekanan terhadap anggrek mikro juga dapat meningkat akibat perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Amri mengatakan hilangnya pohon inang akibat kerusakan hutan maupun longsor dapat sekaligus menghilangkan habitat bagi koloni anggrek yang bergantung pada pohon tersebut.

Dengan demikian, kondisi organisme kecil seperti anggrek epifit dapat memperlihatkan perubahan yang terjadi pada ekosistem hutan. Keberadaannya tidak terlepas dari kondisi pohon inang serta lingkungan mikro di sekitarnya.

Perlindungan Batang Toru Perlu Menyeluruh

Amri mendorong pemerintah memperkuat perlindungan ekosistem Batang Toru melalui pengawasan kawasan. Upaya tersebut, menurut dia, perlu disertai penegakan hukum terhadap aktivitas yang merusak habitat serta pendanaan konservasi yang berkelanjutan.

Menurut dia, perlindungan kawasan tidak cukup hanya diarahkan pada spesies satwa berukuran besar. Konservasi juga harus mencakup keseluruhan ekosistem dan hubungan antarmakhluk hidup di dalamnya.

“Melindungi Batang Toru berarti menjaga satu kesatuan ekosistem, mulai dari pohon, tumbuhan epifit, satwa, air hingga mikro habitat. Ketika satu komponen hilang, keseimbangan ekologis dapat ikut terganggu,” ucapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online