SNTL 2026 Soroti Solusi Lingkungan Berbasis Teknologi

Sunartono
Sunartono Kamis, 01 Oktober 2026 22:27 WIB
SNTL 2026 Soroti Solusi Lingkungan Berbasis Teknologi

SNTL 2026 mempertemukan akademisi, pemerintah, industri, dan mitra untuk membahas teknologi dan manajemen lingkungan berkelanjutan. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA— Persoalan lingkungan yang mencakup sampah, air, pencemaran udara, hingga perubahan iklim membutuhkan penanganan yang tidak berhenti pada inovasi teknologi. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan menjadi salah satu hal yang ditekankan dalam Seminar Nasional Teknik Lingkungan (SNTL) 2026 Universitas Islam Indonesia (UII).

Program Studi Teknik Lingkungan UII kembali menggelar SNTL untuk kedua kalinya pada Sabtu (26/9/2026) secara daring. Tahun ini, seminar mengangkat tema “Sinergi Teknologi dan Manajemen Lingkungan untuk Indonesia yang Berkelanjutan”.

Ketua Program Studi Teknik Lingkungan UII, Supriyanto, mengatakan pengelolaan sampah dan limbah, kualitas air dan udara, perubahan iklim, serta konservasi sumber daya membutuhkan pendekatan yang saling terhubung.

“Teknologi terapan tanpa sistem manajemen yang baik tidak akan memberikan dampak optimal, begitu pula sebaliknya,” ujarnya.

Ia berharap gagasan yang dibahas dalam SNTL 2026 dapat berkembang menjadi langkah nyata sekaligus rekomendasi bagi pengelolaan lingkungan di Indonesia.

Pertemukan Kampus, Pemerintah dan Industri

Dekan Fakultas Teknik Desain Inovasi (FTDI) UII, Miftahul Fauziah menekankan pentingnya mempertemukan kepakaran teknik, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat agar inovasi lingkungan dapat diterapkan secara luas.

SNTL menjadi ruang bagi perguruan tinggi dan mitranya untuk membangun kerja sama lintas disiplin sekaligus memperkuat kontribusi riset terhadap pembangunan berkelanjutan.

Inovasi lingkungan dalam forum tersebut tidak hanya dipandang sebagai hasil penelitian. Rangkaian prosesnya mencakup identifikasi masalah, pengujian solusi, penguatan kapasitas, hingga penerapan yang manfaatnya dapat dipantau masyarakat.

Riset Lingkungan Perlu Diikuti Penegakan

Prof. Sri Wartini menilai forum ilmiah perlu menghubungkan bukti ilmiah dengan tanggung jawab hukum. Menurutnya, data dan teknologi pemantauan dapat membantu mengenali persoalan pencemaran, tetapi temuan tersebut harus diikuti pengawasan serta penegakan yang konsisten.

“Perlindungan lingkungan memerlukan aturan yang jelas dan data yang dapat dipercaya. Teknologi pemantauan membantu mengenali sumber pencemaran, tetapi temuan itu harus diikuti pengawasan dan penegakan yang konsisten. Melalui SNTL, berbagai pihak dapat menguji apakah solusi yang ditawarkan benar-benar melindungi lingkungan dan hak masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Selamet Daroyni melihat kerja bersama sebagai syarat utama untuk membangun ketahanan kota terhadap perubahan iklim. Kota tangguh iklim dibangun melalui keputusan bersama pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan warga. Data risiko perlu diterjemahkan menjadi langkah yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari, seperti perlindungan kawasan rentan dan layanan dasar.

"Forum SNTL membantu mempertemukan pengetahuan dan pengalaman agar setiap pihak memahami perannya dan hasil kerja sama dapat dinilai,” tuturnya.

Dari perspektif industri, Trihadi Nurahmansyah menyoroti hubungan antara pendidikan dan kebutuhan dunia usaha. Alumni Program Studi Teknik Lingkungan UII tersebut mengatakan ilmu teknik lingkungan perlu dibawa untuk menjawab tantangan nyata di kawasan industri.

“Sebagai alumni, saya melihat pentingnya membawa ilmu teknik lingkungan ke tantangan nyata di kawasan industri. ESG dan sistem manajemen lingkungan perlu terlihat dalam pemantauan yang teratur, pencegahan pencemaran, serta perbaikan yang bisa diukur. SNTL mempertemukan kampus dan industri untuk berbagi solusi sekaligus menyiapkan tenaga profesional yang mampu menerapkannya,” ujarnya.

84 Naskah Dipresentasikan

SNTL 2026 mencatat 84 pemakalah dan 84 naskah terdaftar. Dari jumlah tersebut, sebanyak 27 naskah berasal dari UII, 39 dari mitra penyelenggara, dan 18 dari institusi lain di berbagai wilayah Indonesia.

Topik pengelolaan sampah dan limbah B3 menjadi pembahasan terbanyak dengan 28 naskah. Selanjutnya, infrastruktur sanitasi lingkungan serta sumber daya air dan lahan masing-masing menyumbang 18 naskah.

Naskah lainnya membahas pencemaran udara dan perubahan iklim, bioteknologi, serta keselamatan dan kesehatan kerja atau lingkungan.

Setelah seminar utama dan sesi tanya jawab, para pemakalah mempresentasikan kajian dalam sesi paralel berdasarkan subtema. Pertukaran gagasan tersebut memperlihatkan kebutuhan untuk menghubungkan hasil penelitian dengan penerapan di lapangan, pengelolaan kelembagaan, dan dukungan kebijakan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online