75 Fragmen Karang Ditanam di Pulau Miang, Ini Tujuannya

Newswire
Newswire Senin, 17 Agustus 2026 21:57 WIB
75 Fragmen Karang Ditanam di Pulau Miang, Ini Tujuannya

Dispar Kaltim bersama komunitas menanam 75 fragmen karang di Pulau Miang memakai metode MARRS untuk menjaga wisata bahari. /Antara.

Harianjogja.com, KUTAI TIMUR— Upaya menjaga terumbu karang sekaligus keberlanjutan wisata bahari dilakukan Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur (Dispar Kaltim) bersama sejumlah komunitas di Pulau Miang, Kutai Timur. Sebanyak 75 fragmen karang ditanam menggunakan metode MARRS Spider dalam kegiatan rehabilitasi yang juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat.

Kegiatan tersebut berlangsung pada Minggu (16/8) dengan melibatkan Yekhalis Scuba School, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pulau Miang, akademisi, dan insan media.

Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Muhammad Faisal mengatakan kegiatan dilakukan secara swadaya sebagai bagian dari edukasi lingkungan sekaligus investasi jangka panjang untuk menjaga keindahan bawah laut Pulau Miang bagi generasi mendatang.

“Transplantasi karang ini merupakan hasil kolaborasi Dispar Kaltim, Yekhalis Scuba School, Pokdarwis, dan media. Selain sebagai upaya pelestarian, ini juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat dan pengelola wisata agar semakin peduli terhadap keberlanjutan ekosistem laut,” ujar Faisal.

75 Fragmen Karang Dipasang pada Lima Modul

Dalam kegiatan tersebut, tim menanam 75 fragmen karang menggunakan lima modul MARRS Spider atau Reefstar. MARRS Spider merupakan rangka media tanam berbahan besi berbentuk heksagonal atau segi enam yang menyerupai jaring laba-laba dan digunakan dalam metode rehabilitasi terumbu karang.

Sebelum diturunkan ke dasar laut, fragmen-fragmen karang terlebih dahulu dipasang bersama-sama di dermaga. Tahapan tersebut sekaligus dimanfaatkan sebagai bagian dari proses edukasi kepada masyarakat sekitar.

Faisal menilai jumlah fragmen yang ditanam memang belum besar. Namun, kegiatan tersebut dinilai penting sebagai langkah awal membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga terumbu karang.

“Lima modul dan 75 fragmen karang ini memang simbolis, tetapi yang lebih penting adalah pesan edukasi dan kepedulian yang ingin kita tanamkan kepada masyarakat,” katanya.

Lokasi Transplantasi Diberi Prasasti

Setelah pemasangan, modul-modul MARRS Spider tersebut ditempatkan secara simbolis di kawasan rehabilitasi terumbu karang. Penempatan dilakukan oleh perwakilan berbagai unsur yang terlibat dalam kegiatan.

Muhammad Faisal mewakili Dispar Kaltim, Auliansyah mewakili Yekhalis Scuba School, Aldi dari Pokdarwis Pulau Miang, Muchlis dari Universitas Mulawarman, serta Suriyatman dari unsur media.

Dispar Kaltim juga memasang prasasti sebagai penanda lokasi rehabilitasi. Keberadaan prasasti tersebut diharapkan membantu proses pemantauan sekaligus evaluasi perkembangan karang hasil transplantasi.

“Prasasti ini menjadi penanda sekaligus memudahkan kami melakukan kontrol dan evaluasi terhadap hasil transplantasi yang telah dilakukan,” jelas Faisal.

Karang Butuh Waktu hingga Lebih dari Satu Dekade

Perwakilan Yekhalis Scuba School, Auliansyah, menjelaskan transplantasi menggunakan metode MARRS (Mars Accelerated Coral Reef Restoration System). Jenis karang yang digunakan adalah Acropora dan Pocillopora yang ditempatkan pada modul Reefstar.

Menurut Auliansyah, rehabilitasi terumbu karang bukan proses yang bisa memberikan hasil dalam waktu singkat. Karang hasil transplantasi membutuhkan sekitar tiga hingga lima tahun untuk berkembang menjadi terumbu mini yang dapat berfungsi sebagai habitat biota laut.

Sementara itu, pembentukan ekosistem alami yang matang membutuhkan waktu lebih dari satu dekade. Karena itu, keberlangsungan kawasan rehabilitasi juga membutuhkan dukungan masyarakat dan wisatawan.

“Pertumbuhan terumbu karang sangat lambat. Karena itu kami berharap wisatawan dan masyarakat turut menjaga kawasan ini agar upaya rehabilitasi yang dilakukan dapat memberikan hasil yang optimal,” ujarnya.

Melalui rehabilitasi tersebut, Dispar Kaltim berharap kepedulian masyarakat terhadap ekosistem laut semakin meningkat. Upaya itu sekaligus diarahkan agar keindahan bawah laut Pulau Miang tetap terjaga dan dapat menjadi daya tarik wisata berkelanjutan bagi Kalimantan Timur.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online