Usul Hardjuno: Perampasan Aset Harus Punya Rezim Hukum Sendiri
Hardjuno usulkan perampasan aset tanpa pidana jadi rezim hukum tersendiri. Dinilai penting untuk jamin kepastian hukum dan lindungi hak warga.
Foto ilustrasi hutan. - Freepik
Harianjogja.com, DEPOK—Lumut epifit berpotensi menjadi indikator alami untuk memantau kualitas lingkungan di kawasan perkotaan. Temuan tersebut diungkap akademisi jenjang doktoral Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI), Afiatry Putrika, melalui penelitian yang menyoroti hubungan keanekaragaman lumut dengan kondisi lingkungan urban yang dipengaruhi polusi udara dan peningkatan suhu.
Hasil riset tersebut mengantarkan Afiatry meraih gelar doktor dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,88 dalam sidang promosi. Penelitian ini juga membuka peluang pemanfaatan lumut epifit sebagai bioindikator untuk mendukung pengelolaan ruang terbuka hijau (RTH) yang lebih berkelanjutan di kawasan perkotaan.
Disertasi Ungkap Potensi Lumut Epifit
Temuan itu dipaparkan Afiatry melalui disertasinya yang berjudul “Studi Keanekaragaman dan Adaptasi Lumut Epifit pada Kawasan Urban Selatan Jakarta yang Berpotensi sebagai Indikator Kualitas Lingkungan.”
Di Kampus UI Depok, Rabu, Afiatry menjelaskan bahwa struktur komunitas, tingkat keanekaragaman, serta kemampuan adaptasi lumut epifit memiliki keterkaitan erat dengan kondisi lingkungan perkotaan, terutama yang dipengaruhi oleh polusi udara dan kenaikan suhu.
Menurutnya, karakteristik tersebut membuat lumut epifit memiliki nilai penting sebagai indikator alami dalam menilai kondisi lingkungan.
“Lumut memang terlihat sederhana, tetapi keberadaannya dapat menjadi penanda kondisi lingkungan. Keanekaragaman lumut epifit dapat dimanfaatkan untuk memantau kualitas lingkungan di kawasan urban,” kata Afiatry.
Tidak Mengambil Nutrisi dari Pohon Inang
Lumut epifit merupakan jenis lumut yang hidup menempel pada batang maupun cabang pohon. Berbeda dengan tumbuhan parasit, lumut ini tidak mengambil nutrisi dari tanaman inangnya.
Sebaliknya, lumut epifit memperoleh kebutuhan hidupnya dari udara dan air hujan. Kondisi tersebut menjadikannya sangat sensitif terhadap perubahan kualitas lingkungan sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bioindikator.
Penelitian Dilakukan di RTH Jakarta Selatan
Dalam penelitiannya, Afiatry melakukan pengamatan di berbagai ruang terbuka hijau (RTH) di wilayah selatan Jakarta.
Kajian tersebut mencakup hubungan antara struktur komunitas lumut epifit dengan berbagai faktor lingkungan, karakter adaptasi morfologi dan anatomi, hingga respons molekuler melalui ekspresi gen heat shock protein 70 (hsp70) terhadap cekaman suhu.
Melalui pendekatan tersebut, penelitian mampu menggambarkan bagaimana lumut epifit beradaptasi terhadap tekanan lingkungan yang umum dijumpai di kawasan perkotaan.
Kajian Lumut sebagai Bioindikator Masih Terbatas
Afiatry menilai penelitian mengenai pemanfaatan lumut sebagai bioindikator kualitas lingkungan masih relatif terbatas di Indonesia.
Terutama, penelitian yang menghubungkan aspek keanekaragaman lumut, faktor lingkungan, serta mekanisme adaptasinya secara terpadu masih belum banyak dilakukan.
“Harapannya, penelitian ini dapat menjadi dasar pengembangan biomonitoring kualitas lingkungan sekaligus mendukung pengelolaan ruang terbuka hijau yang lebih berkelanjutan di kawasan perkotaan,” ujarnya.
Berpotensi Membantu Pengelolaan Lingkungan Kota
Hasil penelitian tersebut membuka peluang baru dalam pemanfaatan lumut epifit sebagai indikator alami kualitas lingkungan di kawasan urban.
Dengan memantau keberadaan serta tingkat keanekaragaman lumut epifit, pemerintah maupun pengelola ruang terbuka hijau dapat memperoleh gambaran awal mengenai dampak polusi udara dan peningkatan suhu. Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam menyusun langkah pengelolaan lingkungan yang lebih tepat sasaran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Hardjuno usulkan perampasan aset tanpa pidana jadi rezim hukum tersendiri. Dinilai penting untuk jamin kepastian hukum dan lindungi hak warga.
Masa tunggu haji reguler turun menjadi rata-rata 26 tahun. Pemerintah masih mengkaji berbagai skema percepatan keberangkatan jemaah.
Ketua RT mengungkap tersangka teror bom SDN Srengseng Sawah 15 Pagi pernah mengirim ancaman serupa kepada warga di lingkungan tempat tinggalnya.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih meraih penghargaan dalam Jogja Brand and Business Awards 2026 sebagai “Kepala Daerah Akselerator Pariwisata
Kemarau memicu krisis air di Padukuhan Kemesu, Rongkop. Warga membeli air Rp120.000 per tangki sambil menunggu pasokan PDAM membaik.
Ajang bergengsi Jogja Brand and Business Awards (JBBA) 2026 resmi dibuka oleh Gubernur DIY Sri Sultan HB X pada Rabu (15/7/2026)