Bupati Gunungkidul Siap Jaga Lingkungan Lewat Program Alam Lestari

David Kurniawan
David Kurniawan Selasa, 07 Juli 2026 11:17 WIB
Bupati Gunungkidul Siap Jaga Lingkungan Lewat Program Alam Lestari

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih saat menerima tim Harian Jogja di kantornya, Senin (6/7/2026). Harian Jogja/David Kurniawan

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL — Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menegaskan komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan di wilayah Bumi Handayani. Upaya tersebut menjadi bagian penting dari visi misi pembangunan daerah melalui program unggulan “alam lestari”.

Komitmen itu disampaikan saat menerima audiensi manajemen Harian Jogja di Kantor Bupati Gunungkidul, Senin (6/7/2026). Mbak Endah—sapaan akrabnya—menyebut pelestarian lingkungan menjadi prioritas karena peran strategis Gunungkidul sebagai kawasan penyangga ekosistem di DIY.

“Kelestarian lingkungan harus dijaga karena masuk dalam visi misi melalui program alam lestari,” ujar Mbak Endah.

Ia menjelaskan, Gunungkidul memiliki tanggung jawab besar karena sekitar 85% kawasan hutan di DIY berada di wilayah ini. Kondisi tersebut menjadikan Gunungkidul sebagai salah satu penopang utama keseimbangan lingkungan, termasuk dalam menjaga kualitas udara dan pasokan oksigen.

“Sebagian besar hutan di DIY ada di Gunungkidul, sehingga kelestariannya harus dijaga. Hutan memiliki peran penting bagi kehidupan manusia,” katanya.

Selain menjaga hutan, Pemkab Gunungkidul juga menghadapi tantangan lain berupa potensi bencana longsor, terutama di wilayah utara. Salah satu titik rawan yang kerap menjadi perhatian adalah Tanjakan Clongop di Kapanewon Gedangsari, yang berada di kawasan perbukitan dan sering mengalami longsor.

Menurut Mbak Endah, penanganan kawasan rawan longsor membutuhkan sinergi antara pemerintah daerah dan Pemerintah DIY. Pasalnya, titik rawan tidak hanya berada di satu lokasi, tetapi tersebar di sejumlah kapanewon seperti Gedangsari, Patuk, Ngawen, Nglipar, Semin hingga Ponjong.

Sebagai langkah mitigasi, Pemkab Gunungkidul telah menginisiasi gerakan penanaman akar wangi di sejumlah titik rawan. Tanaman ini dinilai efektif karena memiliki akar kuat yang mampu mengikat tanah hingga kedalaman sekitar lima meter, sehingga dapat mengurangi risiko longsor.

“Selain kuat menahan tanah, akar wangi juga memiliki nilai ekonomi karena bisa dimanfaatkan untuk kerajinan maupun bahan pewangi alami,” ujarnya.

Upaya pelestarian lingkungan juga diperkuat melalui program korve atau kerja bakti yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari masyarakat, pemerintah daerah hingga unsur TNI dan Polri. Kegiatan ini rutin dilakukan untuk menjaga kebersihan sekaligus meningkatkan kesadaran kolektif terhadap lingkungan.

Sementara itu, perwakilan manajemen Harian Jogja, Anton Wahyu Prihartono, menyampaikan komitmen pihaknya dalam mendukung pelestarian lingkungan melalui berbagai program berkelanjutan. Pada 2025 lalu, Harian Jogja telah menggelar penanaman pohon serta pelepasan tukik di Pantai Sepanjang, Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari.

Selain itu, pada Mei 2026 juga dilakukan penanaman pohon di lokasi terdampak longsor di Padukuhan Jono, Kalurahan Tancep, Kapanewon Ngawen. Program tersebut akan terus diperluas ke berbagai titik lain di Gunungkidul sebagai bagian dari kontribusi terhadap pelestarian lingkungan.

“Gerakan menanam pohon akan terus dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan dan menjadi warisan bagi generasi mendatang,” kata Anton.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta, upaya menjaga kelestarian lingkungan di Gunungkidul diharapkan semakin kuat dan berkelanjutan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online