China Tanam 66 Miliar Pohon di Great Green Wall

Jumali
Jumali Senin, 06 Juli 2026 09:47 WIB
China Tanam 66 Miliar Pohon di Great Green Wall

Foto ilustrasi hutan. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Selama lima dekade terakhir, China telah mengerahkan upaya besar untuk merespons fenomena perubahan iklim melalui penciptaan hutan buatan dalam jumlah yang mencengangkan. Proyek ambisius bernama Great Green Wall yang diluncurkan pada 1978 telah menanam sekitar 66 miliar pohon, menjadikannya salah satu proyek reboisasi terbesar di dunia. Namun, sebuah studi terbaru mengungkap perbedaan signifikan antara hutan buatan ini dengan hutan alami, terutama dalam hal efektivitas jangka pendek dan jangka panjang dalam menyerap karbon.

Seorang ahli ekologi lanskap di Universitas Peking, Yuhang Luo, bersama tim peneliti melakukan studi mendalam untuk membandingkan keanekaragaman spesies, kepadatan pohon, dan usia hutan buatan dengan hutan alami. Hutan buatan didefinisikan sebagai kawasan yang sengaja diciptakan oleh manusia, sementara hutan alami tumbuh tanpa campur tangan manusia. Penelitian ini juga meneliti dampak kedua jenis hutan terhadap peningkatan CO2 dan perubahan iklim.

Keunggulan Hutan Buatan dalam Jangka Pendek

Tim peneliti menggunakan data satelit untuk melacak indeks luas daun, kepadatan kanopi, dan penyerapan karbon. Hasil analisis menunjukkan bahwa hutan buatan memiliki peningkatan luas daun 66 persen lebih cepat dibandingkan hutan alami. Perbedaan ini disebabkan oleh usia pohon yang lebih muda di hutan buatan, yang memungkinkan pertumbuhan lebih cepat. Dari segi usia dan pertumbuhan, hutan tanaman juga unggul dengan pertumbuhan 4,6 persen lebih cepat dari hutan campuran maupun hutan evergreen (hutan yang selalu hijau sepanjang tahun).

"Hutan tanaman bisa menjadi alat yang ampuh dalam jangka pendek untuk menyerap karbon," jelas Yuhang Luo, dikutip dari Live Science.

Temuan ini menunjukkan bahwa hutan buatan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam upaya mitigasi perubahan iklim dengan cepat, terutama dalam menyerap emisi karbon di atmosfer.

Keunggulan Hutan Alami dalam Jangka Panjang

Meskipun hutan buatan menunjukkan keunggulan dalam pertumbuhan cepat, Luo menekankan bahwa keunggulan ini bersifat sementara. Dalam hal penyimpanan karbon jangka panjang dan ketahanan ekosistem, hutan alami tetap tidak tergantikan. "Hutan tanaman bisa menjadi alat ampuh dalam jangka pendek untuk menyerap karbon, namun keunggulan ini bersifat sementara. Untuk penyimpanan karbon jangka panjang dan ketahanan, hutan alami tidak tergantikan," tegasnya.

Hutan alami memiliki keanekaragaman hayati yang lebih tinggi, struktur ekosistem yang lebih kompleks, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan secara alami. Hal ini menjadikannya lebih tahan terhadap gangguan seperti hama, penyakit, dan perubahan iklim ekstrem dalam jangka panjang.

Harapan untuk Masa Depan

Luo berharap temuan timnya dapat membantu upaya reboisasi di masa depan. Dengan memahami keunggulan dan keterbatasan masing-masing jenis hutan, manusia dapat memanfaatkan penanaman hutan baru secara lebih efektif sebagai cara mengurangi dampak perubahan iklim. Sementara itu, proyek Great Green Wall akan tetap dijalankan dengan rencana penanaman 34 miliar pohon lagi pada pertengahan abad ini.

Bagi masyarakat global, studi ini memberikan wawasan penting bahwa solusi jangka pendek dan jangka panjang harus seimbang. Hutan buatan dapat menjadi alat cepat untuk menyerap karbon, tetapi hutan alami tetap menjadi tulang punggung ketahanan ekosistem di masa depan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online