Target Pendanaan Iklim 45 Persen Dihapus, Transisi Hijau Terancam

Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria Kamis, 02 Juli 2026 17:27 WIB
Target Pendanaan Iklim 45 Persen Dihapus, Transisi Hijau Terancam

Foto ilustrasi Bank Dunia. /Ist-Antara

Harianjogja.com, JAKARTA— Keputusan Bank Dunia menghapus target alokasi 45% investasi untuk mendukung mitigasi dan adaptasi perubahan iklim memicu kekhawatiran di kalangan negara berkembang. Kebijakan ini dinilai berpotensi memperlambat pendanaan berbagai proyek transisi energi, ketahanan pangan, hingga pembangunan infrastruktur yang lebih ramah lingkungan.

Keputusan tersebut disahkan Dewan Direksi Bank Dunia pada Senin (29/6/2026) dan diumumkan secara resmi pekan ini. Langkah itu diambil di tengah tekanan dari pemerintah Amerika Serikat yang merupakan pemegang saham terbesar lembaga keuangan multilateral tersebut.

Selain menghapus target investasi iklim sebesar 45%, Bank Dunia juga mencabut target terkait sebesar 35% yang sebelumnya tercantum dalam Climate Change Action Plan (CCAP). Meski demikian, program CCAP yang sedianya berakhir pada Juni 2026 tetap diperpanjang sambil menunggu proses evaluasi dan peninjauan lebih lanjut.

Keputusan ini muncul meskipun mendapat penolakan dari koalisi besar negara berkembang dan pemegang saham lainnya yang mewakili hampir 100 negara. Kelompok tersebut meminta agar komitmen pembiayaan iklim tetap dipertahankan mengingat kebutuhan pendanaan untuk menghadapi dampak perubahan iklim terus meningkat.

Dalam pernyataannya, Bank Dunia menegaskan bahwa kerangka kerja CCAP selama ini dianggap efektif dan akan tetap dilanjutkan. Lembaga tersebut juga menyatakan tetap memantau dua indikator utama, yakni pengurangan emisi gas rumah kaca bersih dan peningkatan jumlah masyarakat yang memiliki ketahanan terhadap risiko iklim.

“Kemajuan lebih lanjut dalam hal hasil akan terus didorong oleh ambisi negara klien dan dimungkinkan oleh kerja Knowledge Bank, konsisten dengan komitmen internasional negara-negara tersebut,” tulis Bank Dunia dalam pernyataan resminya.

Meski target pembiayaan dihapus, Bank Dunia memastikan dukungan terhadap program terkait perubahan iklim tidak serta-merta dihentikan. Pelaporan perkembangan program akan tetap dilakukan secara berkala kepada dewan direksi melalui laporan kuartalan maupun tahunan.

Dikhawatirkan Lemahkan Transisi Hijau

Keputusan tersebut menuai kritik dari sejumlah organisasi lingkungan internasional. Global Director for Climate, Economics and Finance dari World Resources Institute (WRI), Melanie Robinson, menilai penghapusan target berpotensi melemahkan arah pembiayaan iklim global yang selama ini sudah berjalan.

Menurut dia, banyak negara berkembang justru semakin membutuhkan investasi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim.

Robinson menilai selama beberapa tahun terakhir dana yang disalurkan melalui kerangka CCAP telah membantu berbagai negara memperluas akses energi bersih, memperkuat sistem ketahanan pangan, meningkatkan ketersediaan air bersih, hingga menciptakan lapangan kerja hijau.

“Negara-negara berkembang makin banyak mencari investasi yang sekaligus mengurangi kemiskinan dan memanfaatkan peluang pertumbuhan yang lebih tangguh dan hijau,” katanya.

Ia menyayangkan keputusan yang diambil akibat dorongan sebagian kecil pemegang saham tersebut.

“Sangat disayangkan bahwa sejumlah kecil pemegang saham berhasil melemahkan kerangka ini dengan menghapus targetnya. Penting agar tinjauan yang direncanakan terhadap Rencana Aksi Perubahan Iklim memperkuat, bukan makin mengurangi, kesempatan bagi negara-negara untuk berpartisipasi dalam salah satu transisi ekonomi terpenting di zaman kita,” ujarnya.

Dampak bagi Negara Berkembang

Penghapusan target pembiayaan iklim dinilai dapat menimbulkan ketidakpastian bagi negara-negara berkembang yang selama ini mengandalkan dukungan lembaga multilateral untuk membiayai proyek energi terbarukan, adaptasi perubahan iklim, serta pembangunan rendah karbon.

Di tengah meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem, kekeringan, banjir, dan ancaman terhadap ketahanan pangan global, kebutuhan investasi hijau justru diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.

Bank Dunia menyatakan akan terus mengeksplorasi pendekatan baru dalam mendukung program adaptasi iklim, perlindungan alam, dan pengendalian polusi. Hasil evaluasi terhadap Climate Change Action Plan akan menjadi dasar bagi arah kebijakan pembiayaan iklim lembaga tersebut pada periode berikutnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis