Kemenhut: 12,3 Juta Hektare Lahan Kritis Perlu Segera Direhabilitasi

Newswire
Newswire Rabu, 01 Juli 2026 11:57 WIB
Kemenhut: 12,3 Juta Hektare Lahan Kritis Perlu Segera Direhabilitasi

Foto ilustrasi hutan. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat sekitar 12,3 juta hektare lahan kritis di Indonesia masih membutuhkan rehabilitasi. Upaya pemulihan dinilai mendesak dilakukan untuk memperkuat daya dukung lingkungan sekaligus mengurangi dampak degradasi lahan dan kekeringan yang diperkirakan meningkat akibat perubahan iklim.

Besarnya luas lahan kritis tersebut menjadi perhatian pemerintah seiring meningkatnya ancaman El Nino dan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026. Karena itu, Kemenhut mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan dalam mempercepat rehabilitasi lahan.

Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki mengatakan data sejak 2024 menunjukkan terdapat sekitar 12,3 juta hektare lahan kritis di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 6,6 juta hektare berada di dalam kawasan hutan, sedangkan 5,7 juta hektare lainnya berada di luar kawasan hutan.

"Data lahan kritis di Indonesia mencatat sejak 2024 terdapat sekitar 12,3 juta hektare lahan kritis yang terdiri dari 6,6 juta hektare di dalam kawasan hutan dan 5,7 juta hektare di luar kawasan hutan," kata Rohmat dalam acara Peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan di Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Menurut Rohmat, besarnya luasan lahan kritis tersebut menjadi alarm bagi seluruh pihak untuk memperkuat sinergi dalam memulihkan kualitas lingkungan. Kolaborasi diperlukan agar daya dukung alam tetap terjaga di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim.

Sejumlah langkah menjadi prioritas pemerintah dalam upaya rehabilitasi lahan, di antaranya optimalisasi pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), menjaga persentase tutupan hutan, serta menerapkan praktik pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Kemenhut Waspadai Ancaman El Nino dan Karhutla

Selain mempercepat rehabilitasi lahan kritis, Kemenhut meminta seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan terhadap fenomena El Nino 2026 yang diperkirakan berlangsung lebih cepat dengan durasi lebih panjang dibandingkan biasanya.

Kekhawatiran tersebut didasarkan pada meningkatnya luas kebakaran hutan dan lahan sepanjang Januari hingga Mei 2026 yang telah mencapai sekitar 81.000 hektare di berbagai wilayah Indonesia.

"Ini kalau dibandingkan dengan periode yang sama pada lima tahun sebelumnya ternyata lebih besar. Jadi ini membuktikan bahwa kita harus mewaspadai El Nino pada tahun ini," ungkapnya.

Data tersebut sejalan dengan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan peluang El Nino kategori kuat mencapai 62 persen, sedangkan kategori moderat mencapai 98 persen mulai pertengahan 2026.

Dampak anomali iklim global tersebut diproyeksikan menyebabkan akumulasi curah hujan di 482 zona musim atau sekitar 56,18 persen wilayah daratan Indonesia berada pada kategori di bawah normal sehingga kondisi menjadi lebih kering dibandingkan biasanya.

Musim kemarau tahun ini juga diperkirakan berlangsung lebih panjang pada 437 zona musim atau sekitar 48,77 persen wilayah daratan Indonesia. Puncak kekeringan diprediksi terjadi pada Agustus 2026 dan berpotensi melanda 369 zona musim.

Memasuki Juli 2026, musim kemarau diperkirakan meluas ke 66 zona musim lainnya yang mencakup wilayah Jambi bagian barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian timur, sebagian besar Sulawesi, hingga Maluku Utara.

Rohmat menambahkan Kemenhut tidak hanya menyiapkan langkah mitigasi menghadapi El Nino tahun ini, tetapi juga menyusun strategi jangka panjang untuk mengantisipasi siklus kemarau panjang empat tahunan yang diproyeksikan terjadi pada 2027. Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kemenhut menginstruksikan seluruh pengelola sektor kehutanan agar memprioritaskan penanaman pohon, rehabilitasi kawasan hulu sungai, perlindungan sekitar mata air dan waduk, serta menerapkan metode pembukaan maupun pengelolaan lahan tanpa membakar.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online