Ekonomi Sirkular Didorong untuk Kurangi Sampah dan Limbah

Newswire
Newswire Rabu, 01 Juli 2026 07:57 WIB
Ekonomi Sirkular Didorong untuk Kurangi Sampah dan Limbah

UII, SEAMEO BIOTROP, dan SEAQIM mendorong ekonomi sirkular berbasis STEM-ESD untuk mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi. /Istimewa.

Harianjogja.com, SLEMAN— Penerapan ekonomi sirkular berbasis STEM-ESD menjadi salah satu solusi yang didorong untuk mengatasi persoalan sampah organik sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Pelatihan Nasional dan Seminar Regional bertajuk Circular Economy for Sustainable Agriculture, Natural Resource Management, and Nature-Based Tourism yang digelar SEAMEO BIOTROP bekerja sama dengan Universitas Islam Indonesia (UII) dan SEAQIM di Kampus UII, Sleman, mulai Selasa (30/6/2026).

Kegiatan tersebut mempertemukan pendidik, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara di Asia Tenggara untuk berbagi pengalaman serta memperkuat kapasitas dalam menerapkan ekonomi sirkular pada sektor pertanian, pengelolaan sumber daya alam, hingga pariwisata berbasis alam. Melalui pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) yang dipadukan dengan Education for Sustainable Development (ESD), limbah didorong menjadi sumber daya yang memiliki nilai tambah, bukan sekadar sisa hasil konsumsi.

Limbah Diolah Menjadi Produk Bernilai Ekonomi

Salah satu fokus pembahasan dalam seminar tersebut ialah pemanfaatan limbah organik melalui berbagai inovasi teknologi yang dapat diterapkan di lingkungan masyarakat maupun institusi pendidikan. Beragam metode pengolahan limbah diperkenalkan sebagai bagian dari implementasi ekonomi sirkular yang berorientasi pada keberlanjutan.

Materi yang dibahas meliputi pembuatan bioenzim dari limbah buah, pemanfaatan residu pertanian untuk budidaya jamur konsumsi, hingga penerapan teknologi biokonversi menggunakan larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly/BSF) atau maggot sebagai bahan pakan ternak sekaligus pupuk organik bernutrisi tinggi.

Selain sektor pertanian, konsep ekonomi sirkular juga diarahkan untuk memperkuat pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) di sekolah. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan budaya kewirausahaan hijau (green entrepreneurship) sejak dini melalui kegiatan pembelajaran yang berbasis pada penyelesaian persoalan lingkungan.

Ekonomi Sirkular Perlu Masuk ke Tata Ruang dan Infrastruktur

Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII, Prof. Ilya Fajar Maharika, menekankan bahwa penerapan ekonomi sirkular tidak cukup berhenti pada pengelolaan sampah rumah tangga atau pemilahan limbah dalam skala kecil. Menurutnya, konsep tersebut harus menjadi bagian dari perencanaan tata ruang, pembangunan infrastruktur, hingga pengelolaan kawasan wisata berbasis masyarakat.

"Ekonomi sirkular dalam konteks teknik lingkungan dan arsitektur adalah bagaimana kita mendesain ruang hidup, kawasan pemukiman, hingga destinasi wisata agar memiliki siklus material yang tertutup (closed-loop system). Penggunaan material daur ulang untuk lanskap hijau, pemanfaatan energi terbarukan, serta infrastruktur pengolahan limbah terpadu di tempat wisata bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak untuk mengurangi beban ekologis perkotaan," ujar Ilya.

Ilya menambahkan, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan sekolah menjadi langkah strategis dalam mempercepat penerapan teknologi ramah lingkungan. Pelatihan bagi guru SMA yang menjadi bagian dari kegiatan tersebut diharapkan mampu memperluas implementasi konsep ekonomi sirkular di dunia pendidikan sekaligus memperkuat pemahaman mengenai arsitektur lingkungan dan pengembangan ekowisata berbasis masyarakat.

Melalui kolaborasi SEAMEO BIOTROP, UII, dan SEAQIM, peserta yang terdiri atas puluhan guru SMA dari DIY serta peneliti dari berbagai negara diharapkan dapat menyusun rencana aksi yang diterapkan di sekolah maupun komunitas masing-masing. Langkah tersebut diharapkan mendukung percepatan penerapan ekonomi sirkular berbasis STEM-ESD, pengelolaan limbah berkelanjutan, serta pengembangan ekonomi hijau di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online