Puluhan SD di Sleman Kekurangan Murid, Ada yang Hanya 1 Siswa
Puluhan SD negeri di Sleman kekurangan murid baru pada SPMB 2026. Faktor lokasi dan sekolah swasta jadi penyebab utama.
Foto ilustrasi lahan pertanian diguyur hujan, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, SLEMAN—Hasil pertanian Wadas di Desa Wadas, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, disebut mengalami penurunan sejak aktivitas penambangan untuk proyek Bendungan Bener berlangsung. Kondisi tersebut dinilai berdampak pada menurunnya pendapatan masyarakat sekaligus memicu perubahan pola hidup warga yang selama ini bergantung pada lahan pertanian sebagai sumber penghidupan.
Persoalan mengenai hasil pertanian Wadas tersebut mengemuka dalam diskusi bedah buku Tersungkur dan Tetap Melawan terbitan Marjin Kiri yang digelar di Green House UIN Sunan Kalijaga, Depok, Sleman, Sabtu (27/6/2026). Buku itu mengangkat 14 kisah perjuangan masyarakat di berbagai daerah yang menghadapi proyek pembangunan serta eksploitasi sumber daya alam.
Anggota Wadon Wadas, Susi Mulyani, mengungkapkan produktivitas lahan terus menurun seiring berkurangnya jumlah sumber mata air akibat perubahan lingkungan yang terjadi setelah aktivitas penambangan. Dampaknya, pendapatan warga dari komoditas unggulan seperti kemukus dan kelapa kini jauh lebih rendah dibandingkan sebelum penambangan dimulai.
Menurut Susi, jumlah mata air di Desa Wadas berkurang dari sekitar 27 titik menjadi hanya sekitar 10 titik. Berkurangnya ketersediaan air tersebut berimbas langsung terhadap produktivitas perkebunan yang selama ini menjadi sumber utama penghasilan masyarakat.
"Tanah bukan masalah nominal. Kami sudah hidup sejak kecil dari tanah itu. Kalau tanah dijual, durian yang dulu tinggal petik, sekarang harus beli," kata Susi dalam pemaparannya, Sabtu.
Ia menjelaskan, sebagian warga kini mulai beralih ke sektor peternakan sebagai upaya mempertahankan penghidupan. Selain itu, Kelompok Wadon Wadas membangun bank pakan kambing di lahan terdampak karena tanaman perkebunan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali menghasilkan secara optimal.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Project Multatuli, Fahri Salam, menilai kondisi yang dialami warga Wadas memperlihatkan benturan antara ekonomi berbasis pertanian dengan sistem ekonomi yang berorientasi pada uang. Menurutnya, bagi masyarakat Wadas, tanah bukan sekadar aset yang dapat diganti melalui kompensasi, melainkan alat produksi yang mampu memberikan penghasilan secara berkelanjutan.
Fahri juga menilai pola serupa muncul dalam berbagai konflik proyek strategis nasional di sejumlah daerah. Kehadiran uang ganti rugi dalam jumlah besar, menurutnya, kerap mengubah relasi sosial masyarakat hingga memicu perpecahan antarkelompok.
"Ekonomi uang mengubah lanskap. Ketika lahan hilang, jalan satu-satunya membeli. Relasi yang sebelumnya organik akhirnya menjadi relasi jual-beli," kata Fahri, seraya menilai perubahan tersebut menjadi bagian dari dinamika yang kini ikut memengaruhi hasil pertanian Wadas dan pola kehidupan masyarakat setempat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Puluhan SD negeri di Sleman kekurangan murid baru pada SPMB 2026. Faktor lokasi dan sekolah swasta jadi penyebab utama.
WHO: 1.300 tewas akibat gelombang panas Eropa. Jerman 41,7°C, Prancis 1.000 kematian tambahan. Eropa memanas dua kali lebih cepat dari rata-rata global.
Cristiano Ronaldo menjadi sorotan usai mengganti sepatu emas edisi khusus dengan sepatu pink saat Portugal menghadapi Kolombia di Piala Dunia 2026.
Laptop terasa lambat? Simak 5 cara sederhana untuk meningkatkan performa laptop tanpa biaya servis, mulai dari membersihkan file sampah hingga mengatur startup.
Polresta Jogja menangkap dua pengedar obat keras ilegal dan menyita 81.000 pil berlogo Y serta sabu. Jaringan beroperasi di DIY dan Jawa Tengah sejak 2024.
Ai Ogura menjuarai MotoGP Belanda 2026 di Assen dan mengakhiri penantian 22 tahun Jepang untuk kemenangan di kelas MotoGP.