Hizbullah Klaim Luncurkan 20 Serangan ke Tentara Israel
Hizbullah mengklaim melakukan 20 operasi militer terhadap tentara Israel di Lebanon selatan sebagai respons pelanggaran gencatan senjata.
Foto ilustrasi Waste to Energy. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Kekhawatiran publik terhadap dampak lingkungan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) dinilai dapat ditekan melalui pemilihan teknologi yang tepat, karena sistem insinerasi modern kini dirancang memenuhi standar emisi yang ketat, sebagaimana ditegaskan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia.
Lead of Waste to Energy Danantara Indonesia Fadli Rahman menjelaskan, teknologi yang akan digunakan berbeda dari metode lama yang kerap memicu kekhawatiran terkait pencemaran udara dan limbah berbahaya.
“Insinerasi yang digunakan memiliki pembakaran sempurna dan sistem penyaringan berlapis sehingga emisi berada di bawah standar internasional,” kata Fadli dalam konferensi pers pemaparan hasil kajian bertajuk “Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik" oleh Tenggara Strategics di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Ia menguraikan, proses pembakaran dilakukan pada suhu tinggi sekitar 850 hingga 1.100 derajat Celsius untuk menghancurkan patogen serta senyawa berbahaya, termasuk dioksin, yang berpotensi berdampak pada kesehatan manusia.
Selain itu, sistem pengendalian gas buang dirancang untuk menangkap nitrogen oksida, sulfur oksida, serta logam berat sebelum dilepas ke udara sesuai ketentuan lingkungan yang berlaku. Abu hasil pembakaran pun dikelola mengikuti standar lingkungan dan berpotensi dimanfaatkan sebagai material bahan bangunan seusai melalui proses pengolahan lanjutan.
Dalam kajian Tenggara Strategics yang dipaparkan pada forum tersebut, tata kelola limbah disebut menjadi faktor kunci untuk mencegah pencemaran air dan udara di sekitar fasilitas PLTSa, di samping pemilihan teknologi yang tepat.
Pengalaman pengoperasian PLTSa Benowo di Surabaya dan Putri Cempo di Surakarta menunjukkan persoalan lingkungan lebih banyak dipicu oleh lemahnya pengelolaan limbah dan pengawasan, bukan semata oleh teknologi yang digunakan.
Atas dasar itu, Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 mewajibkan badan usaha pengelola PLTSa menyampaikan laporan tahunan pengelolaan lingkungan kepada kementerian dan lembaga terkait sebagai instrumen pengawasan berkelanjutan.
Peneliti Senior Tenggara Strategics Intan Salsabila Firman menekankan, pemilahan sampah di hulu menjadi prasyarat penting untuk menjaga efisiensi pembakaran sekaligus menekan biaya operasional PLTSa.
“Pemilahan yang baik membantu menurunkan kadar air sampah, mengurangi bau, dan meningkatkan kinerja pembakaran,” ujar Intan.
Ia menambahkan, pemilahan juga membuka peluang pengolahan sampah organik basah menjadi kompos sehingga volume sampah yang harus dibakar dapat dikurangi secara signifikan.
Sementara itu, Guru Besar Institut Pertanian Bogor Arief Sabdo Yuwono menegaskan, pemilihan teknologi PLTSa harus disesuaikan dengan karakteristik sampah perkotaan di Indonesia yang didominasi sampah organik basah.
“Teknologi harus dipilih setelah karakteristik sampah diketahui, bukan sebaliknya,” tutur Arief.
Menurut dia, keberhasilan PLTSa juga sangat bergantung pada pengawasan lingkungan yang berkelanjutan guna melindungi kesehatan masyarakat di sekitar fasilitas.
Dalam kerangka itu, Danantara menilai keterbukaan informasi dan sosialisasi kepada warga sekitar menjadi kunci keberhasilan proyek PLTSa, termasuk melalui konsultasi publik sebelum pembangunan dimulai sebagaimana diatur dalam Perpres 109/2025.
Pada saat yang sama, PLTSa dipandang bukan hanya sebagai solusi energi, tetapi juga sebagai instrumen untuk menekan risiko kesehatan akibat penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir, yang tetap harus dipadukan dengan strategi pengurangan dan daur ulang sampah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Hizbullah mengklaim melakukan 20 operasi militer terhadap tentara Israel di Lebanon selatan sebagai respons pelanggaran gencatan senjata.
Amerika Serikat disebut telah menghabiskan Rp507 triliun untuk operasi militer melawan Iran sejak konflik pecah Februari 2026.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 13 Mei 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur, tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Festival Dalang Cilik Kulonprogo menjadi ajang regenerasi dalang muda dan pelestarian budaya wayang di kalangan pelajar.
Jadwal KRL Solo-Jogja Rabu 13 Mei 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta dengan tarif Rp8.000 sekali perjalanan
Kelurahan Patangpuluhan Jogja memperkuat literasi gizi keluarga lewat pelatihan B2SA untuk mempertahankan nol kasus stunting.