24 Truk Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Boyolali
Sebanyak 24 truk operasional Koperasi Desa Merah Putih tiba di Boyolali dan mulai dibagikan kepada pengurus KDMP.
Ilustrasi kompos./Freepik
GUNUNGKIDUL--Pemerintah Kabupaten Gunungkidul DIY meluncurkan gerakan Masyarakat Gunungkidul Mandiri Olah Sampah (MasGun Maos) guna mendorong masyarakat mengelola sampah secara mandiri dimulai dari pemilahan sampah organik di rumah masing-masing.
"MasGun Maos diinisiasi sebagai semangat untuk mengolah sampah organik di rumah masing-masing, dan mendorong masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri, dimulai dari pemilahan sampah organik dan non-organik," kata Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih di sela peluncuran di Gunungkidul, Selasa (16/12/2025).
Gerakan MasGun Maos ini didukung dengan dua surat edaran Bupati Gunungkidul tahun 2025, dan juga diintegrasikan dengan Gerakan Pengembangan Pangan dan Gizi (Gerbang Pagi), program dari Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul.
"Integrasi ini memungkinkan sampah organik yang diolah menjadi kompos dapat berfungsi sebagai media pendukung kegiatan budidaya pangan keluarga. Selain itu, sisa makanan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, seperti ayam atau bebek," katanya.
Oleh karena itu, Bupati Endah menekankan peran vital tim penggerak PKK di semua tingkatan, baik kabupaten, kecamatan dan kelurahan dalam upaya pengurangan sampah sejak dari sumbernya, dan hasil dari pengolahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Gunungkidul Antonius Hary Sukmono mengatakan, peluncuran gerakan olah sampah mandiri disertai sosialisasi pengolahan sampah organik dengan metode ember tumpuk.
Menurut dia, pengelolaan sampah rumah tangga saat ini masih menjadi tantangan yang membutuhkan perhatian serius.
"Setiap hari, masyarakat Gunungkidul secara kolektif memproduksi sekitar 380 ton sampah, angka ini didapatkan dari perhitungan bahwa setiap orang menghasilkan rata-rata sekitar 0,49 kilogram sampah per hari," katanya.
Menurut dia, dari komposisi sampah harian yang sebanyak 380 ton tersebut, sebesar 47 persen di antaranya adalah sampah organik, khususnya sisa olahan dapur dan sisa makanan.
"Metode pengolahannya sederhana dan aplikatif, yaitu menggunakan ember tumpuk dan jugangan. Jugangan memanfaatkan kearifan lokal di wilayah pedesaan yang memiliki lahan untuk membuat lubang sampah, yang sampahnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk saat musim tanam," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sebanyak 24 truk operasional Koperasi Desa Merah Putih tiba di Boyolali dan mulai dibagikan kepada pengurus KDMP.
Jadwal terbaru KRL Solo-Jogja Jumat 15 Mei 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta dengan tarif Rp8.000 dan perjalanan sejak pagi.
Barcelona gagal mencapai 100 poin usai kalah dari Deportivo Alaves. Hansi Flick tetap puas dengan performa pemain muda Blaugrana.
Jadwal terbaru KRL Jogja-Solo Jumat 15 Mei 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Polres Kudus mengamankan lima pemuda yang membawa senjata tajam saat menggeruduk kompleks perumahan di Kecamatan Bae.
KAI Commuter menambah 4 perjalanan KRL Jogja-Palur selama libur panjang Kenaikan Yesus Kristus 14–17 Mei 2026.